Deniz Undav sedang berada dalam salah satu fase paling sulit dalam perjalanan kariernya.
Beberapa bulan lalu, penyerang VfB Stuttgart itu masih menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sepak bola Jerman. Kariernya yang tidak biasa membuat banyak orang terkesan. Dari pemain yang pernah berjuang di level bawah dan menjalani kehidupan sederhana, Undav berhasil menembus Bundesliga, menjadi bagian dari tim nasional Jerman, tampil di Piala Dunia, mencetak banyak gol, dan bahkan dipercaya mengenakan ban kapten Stuttgart.
Namun sepak bola dapat berubah dengan sangat cepat.
Kini Undav menghadapi kenyataan berbeda.
Gol-gol tidak kunjung datang.
Peluang yang didapat sangat sedikit.
Stuttgart kesulitan meraih hasil positif.
Dan yang paling membuat situasinya semakin berat, pelatih baru tim nasional Jerman, Jürgen Klopp, belum memasukkan namanya ke dalam skuad.
Dalam wawancara setelah Stuttgart kalah 0-1 dari Borussia Dortmund, Undav akhirnya meluapkan frustrasinya.
Ia tidak menyembunyikan bahwa beberapa bulan terakhir terasa sangat melelahkan.
“Saya sudah mengalami perang sejak musim panas,” demikian gambaran yang muncul dari curahan hati Undav mengenai perjuangan yang sedang ia jalani.
Bukan perang secara harfiah, tentu saja.
Undav menggambarkan perjuangan mental dan profesional yang harus ia hadapi setelah periode penuh kesuksesan tiba-tiba berubah menjadi masa penuh keraguan.
Stuttgart Kalah, Undav Kembali Gagal Mencetak Gol
Pertandingan melawan Dortmund menjadi gambaran terbaru mengenai masalah yang sedang dihadapi Undav.
Stuttgart kalah 0-1 dalam pertandingan yang berlangsung ketat.
Undav sendiri ditarik keluar setelah 63 menit.
Ia terlihat menggelengkan kepala ketika meninggalkan lapangan.
Ia kemudian menyalami Dzenan Pejcinovic sebelum berjalan menuju bangku cadangan.
Undav sempat melihat Sebastian Hoeneß yang sedang memberikan instruksi dari pinggir lapangan.
Namun pelatih Stuttgart tersebut tidak melihat ke arahnya.
Undav kemudian duduk di bangku cadangan dan hanya bisa menyaksikan pertandingan berlanjut.
Beberapa puluh menit kemudian, Dortmund mencetak gol kemenangan.
Maximilian Beier menjadi penentu setelah rangkaian kombinasi yang melibatkan Nico Schlotterbeck, Jobe Bellingham dan Konstantinos Karetsas.
Gol tersebut membuat Stuttgart menelan kekalahan ketiga dalam empat pertandingan Bundesliga.
Sementara Undav kembali mengakhiri pertandingan tanpa gol.
Statistiknya pun mulai terlihat mengkhawatirkan.
Menurut Goal, Undav belum mencetak gol maupun assist pada musim ini. Ia rata-rata hanya melepaskan 0,5 tembakan per pertandingan dan mencatat sekitar 24,8 sentuhan bola per laga.
Angka tersebut sangat berbeda dari produktivitasnya pada musim sebelumnya.
“Saya Terlalu Jauh di Belakang”
Setelah pertandingan, Undav berbicara kepada Sky mengenai alasan mengapa dirinya kesulitan mendapatkan peluang.
Menurutnya, masalah bukan sekadar soal ketajaman di depan gawang.
Ia merasa terlalu sering berada jauh dari posisi ideal untuk menerima bola.
“Saya merasa saya terlalu jauh di belakang di lapangan,” kata Undav.
Ia kemudian menjelaskan bahwa setelah turun terlalu dalam, dirinya harus berlari sekitar 40 meter menuju area depan.
Masalahnya, ketika sudah tiba di sana, bola tidak kunjung datang.
Dalam empat pertandingan Bundesliga, ia mengaku baru mendapatkan dua peluang.
Situasi itu membuat tugas seorang penyerang menjadi semakin sulit.
“Saya terlalu jauh di belakang, lalu harus berlari 40 meter ke depan dan di sana saya tidak mendapatkan bola. Dalam empat pertandingan saya baru punya dua peluang,” ujarnya.
Undav membandingkan situasi tersebut dengan musim sebelumnya.
Menurutnya, ketika itu ia lebih sering menjaga garis pertahanan lawan dan kemudian muncul di posisi yang tepat pada saat bola datang.
Artinya, masalah yang ia rasakan bukan hanya mengenai penyelesaian akhir.
Ia juga merasa kurang terlibat dalam struktur serangan Stuttgart.
Bukan Menyalahkan Sebastian Hoeneß
Menariknya, Undav tidak secara langsung menyalahkan Sebastian Hoeneß.
Justru laporan Goal menekankan bahwa keluhannya tidak seharusnya dipahami sebagai kritik terhadap pelatih Stuttgart.
Hoeneß pada dasarnya tidak mengubah posisi Undav secara drastis dibandingkan musim sebelumnya.
Ia juga tidak memberikan tuntutan yang sepenuhnya berbeda kepada sang striker.
Undav memiliki gaya bermain yang memang unik.
Ia bukan tipe penyerang yang selalu bergerak mengikuti pola yang sudah ditentukan secara kaku.
Permainannya lebih mengandalkan insting.
Kemampuan membaca ruang.
Kemampuan menemukan posisi.
Dan keberanian mengambil keputusan sendiri.
Itulah salah satu alasan mengapa perjalanan kariernya begitu unik.
Undav Bukan Produk Akademi Konvensional
Kisah hidup Undav menjadi bagian penting dalam memahami karakter sang pemain.
Beberapa tahun lalu, namanya bahkan belum dikenal luas oleh publik sepak bola Jerman.
Ia sempat bermain di level ketiga.
Dalam periode tertentu, ia bahkan menjalani kehidupan dengan penghasilan yang sangat terbatas.
Ia pernah menjalani hari-hari panjang antara pekerjaan dan latihan.
Undav juga dikenal sebagai pemain yang tidak mengikuti jalur konvensional menuju sepak bola profesional tingkat tinggi.
Kariernya dibangun melalui kerja keras dan keberanian untuk terus mencoba.
Karena itu, ia juga memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan pemain yang sejak usia muda sudah berada di akademi elite.
Dua mantan pelatih mudanya bahkan menggambarkan Undav sebagai seorang “pesepak bola insting”.
Menurut mereka, Undav memiliki kemampuan membaca apa yang akan terjadi di lapangan beberapa langkah sebelum kejadian itu berlangsung.
Itulah kelebihan yang membawanya sampai ke level tertinggi.
Namun ketika seorang pemain dengan gaya seperti Undav sedang kehilangan kepercayaan diri atau tidak mendapatkan suplai bola yang cukup, performanya juga bisa ikut terpengaruh.
Piala Dunia Justru Meninggalkan Beban
Masalah Undav tidak dimulai ketika musim Bundesliga baru berjalan.
Ada satu peristiwa pada musim panas yang menurutnya terus membekas.
Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi salah satu titik tertinggi dalam kariernya.
Undav tampil dalam turnamen tersebut dan sempat mencetak tiga gol serta satu assist setelah dua pertandingan fase grup melawan Curacao dan Pantai Gading.
Kisah perjalanan kariernya membuat publik Jerman semakin bersimpati.
Pemain yang beberapa tahun sebelumnya masih berjuang di level bawah tiba-tiba menjadi bagian penting dari tim nasional.
Namun perjalanan Jerman di Piala Dunia berakhir mengecewakan.
Dan setelah pertandingan melawan Paraguay, pelatih saat itu, Julian Nagelsmann, secara terbuka menyinggung sebuah peluang yang gagal dimanfaatkan Undav.
Menurut Nagelsmann, ada situasi ketika empat pemain Jerman sebenarnya berada dalam posisi yang sangat menguntungkan.
Bola bisa saja diberikan kepada rekan yang berdiri bebas untuk mencetak gol.
Namun Undav memilih melakukan penyelesaian sendiri dan bola justru mengenai tiang.
Kritik tersebut ternyata membekas.
“Apa Itu Benar-Benar Salah Saya?”
Undav kemudian mengakui bahwa ia terus memikirkan peluang tersebut sepanjang musim panas.
Ia bahkan bertanya kepada dirinya sendiri apakah kegagalan Jerman melaju lebih jauh juga merupakan kesalahannya.
“Apakah tersingkirnya kami juga salah saya?” demikian pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.
Namun secara objektif, pertandingan tersebut masih berlangsung panjang setelah peluang itu.
Masih ada lebih dari 100 menit permainan yang dapat mengubah hasil.
Karena itu, satu peluang yang gagal tidak bisa dengan sendirinya menjelaskan seluruh kegagalan sebuah tim.
Tetapi bagi Undav, komentar Nagelsmann tetap meninggalkan dampak psikologis.
Hal tersebut menjadi bagian dari beban yang kemudian ia bawa memasuki musim baru.
Dari Pahlawan Menjadi Pemain yang Harus Membuktikan Diri Lagi
Perubahan situasi Undav terlihat sangat drastis.
Sebelum Piala Dunia, ia sedang menikmati momentum luar biasa.
Musim lalu ia mencatatkan 19 gol dan enam assist di Bundesliga.
Bersama tim nasional, ia juga telah mencetak sembilan gol dan dua assist dalam 13 penampilan internasional, menurut laporan Goal.
Tiba-tiba semuanya berubah.
Kini ia belum mencetak gol untuk Stuttgart.
Peluang yang didapat sangat sedikit.
Dan ketika Klopp menyusun proyek baru tim nasional Jerman, Undav tidak masuk dalam daftar pemain yang dipanggil.
Situasi seperti itu tentu membuatnya kecewa.
Namun Undav memilih tidak berlama-lama meratapi keputusan tersebut.
Klopp Menolak Memanggil Undav
Jürgen Klopp kini memulai proyek baru bersama tim nasional Jerman.
Pelatih tersebut memiliki standar dan penilaian sendiri terhadap pemain yang ingin ia gunakan.
Undav mengaku Klopp telah menjelaskan alasan mengapa dirinya tidak masuk skuad.
Menurut Undav, Klopp mengatakan bahwa ekspektasinya kini berbeda.
Dalam dua pertandingan yang diamati Klopp, yaitu melawan Bayern Munich dan Köln, Undav dinilai tidak tampil sesuai standar yang diharapkan.
Undav mengakui bahwa dirinya harus menerima keputusan tersebut.
“Saya harus membuktikan lagi kepada seorang pelatih bahwa saya memang pantas ada di sana,” kata Undav.
Ia mengaku sempat kecewa karena merasa penampilannya di Piala Dunia dan pertandingan-pertandingan bersama tim nasional mungkin telah memberinya semacam keuntungan atau “buffer”.
Ternyata tidak.
Di bawah Klopp, semua pemain kembali harus membuktikan diri.
“Memang Melelahkan”
Undav tidak menyembunyikan bahwa kondisi tersebut membuatnya lelah.
Ia merasa harus terus-menerus membuktikan dirinya kepada setiap pelatih.
Namun ia juga sadar bahwa itulah yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
“Saya bukan orang yang cengeng,” kata Undav.
Ia mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk kecewa.
Setelah itu, pikirannya kembali tertuju kepada masa depan.
“Saya kecewa lima menit, setelah itu pandangan saya kembali ke depan,” ujarnya.
Ia bahkan sudah memiliki target.
Undav ingin kembali mendapatkan perhatian Klopp pada pemanggilan berikutnya.
Ia berjanji akan memberikan seluruh kemampuannya agar bisa kembali masuk ke skuad Jerman pada November.
Mentalitas “Saya Bisa Melakukannya”
Inilah bagian paling menarik dari karakter Undav.
Ia tidak pernah memiliki perjalanan yang mudah.
Sejak awal karier, selalu ada orang yang meragukannya.
Ada yang menilai bahasa tubuhnya buruk.
Ada yang mengatakan dirinya tidak cukup cepat.
Ada pula yang meragukan apakah gaya bermainnya bisa bertahan di level tertinggi.
Namun setiap kali menghadapi keraguan, Undav menjawab dengan performa.
Musim lalu menjadi bukti paling jelas.
Meskipun bahasa tubuhnya masih sama, ia mampu menghasilkan 39 kontribusi gol menurut pernyataannya sendiri.
Karena itu, Undav merasa orang yang benar-benar mengenalnya akan memahami bahwa ekspresi tubuh bukan ukuran yang tepat untuk menilai mentalitasnya.
“Saya sering punya masalah dan sering harus membuktikan diri. Seumur hidup saya memang begitu,” katanya.
Stuttgart Juga Sedang Kesulitan
Masalah Undav tidak dapat dipisahkan dari situasi Stuttgart.
Klub tersebut memulai musim dengan buruk.
Pada pertandingan pembuka, Stuttgart bahkan kalah telak 1-5 dari Bayern Munich.
Setelah itu mereka belum mampu menemukan konsistensi.
Kekalahan 0-1 dari Dortmund membuat mereka kembali kehilangan poin dan menambah tekanan kepada tim.
Dengan penyerang utama seperti Undav yang belum menemukan ketajamannya, Stuttgart harus mencari cara untuk meningkatkan produksi gol.
Bukan hanya Undav yang bertanggung jawab.
Sepak bola adalah permainan tim.
Jika seorang striker hanya mendapatkan sedikit peluang, maka masalah juga dapat berasal dari cara tim membangun serangan.
Undav sendiri sudah memberikan gambaran mengenai apa yang ia rasakan.
Ia terlalu sering turun jauh.
Kemudian harus melakukan sprint panjang.
Dan ketika tiba di area berbahaya, bola tidak datang.
Situasi seperti itu tentu tidak ideal bagi seorang penyerang yang kekuatannya terletak pada kemampuan menemukan momen di kotak penalti.
Bukan Saatnya Undav Menyerah
Meski situasinya sulit, Undav belum menunjukkan tanda-tanda ingin menyerah.
Justru karakter keras kepala yang selama ini menjadi bagian dari kisah suksesnya kembali terlihat.
Ia sudah berkali-kali berada dalam posisi ketika orang meragukan kemampuannya.
Dan setiap kali itu pula ia menemukan jalan untuk bangkit.
Sekarang tantangannya lebih besar.
Ia harus kembali mencetak gol.
Membantu Stuttgart keluar dari periode buruk.
Mendapatkan kembali kepercayaan Hoeneß.
Dan jika ingin kembali ke tim nasional, ia harus meyakinkan Klopp bahwa dirinya layak berada di sana.
Tidak ada jalan pintas.
Undav memahami hal tersebut.
Klopp Tidak Menutup Pintu Selamanya
Keputusan Klopp tidak memasukkan Undav ke skuad juga tidak otomatis berarti karier internasional sang pemain telah berakhir.
Justru dari pernyataan Undav sendiri terlihat bahwa pintu tersebut masih terbuka.
Klopp sudah menjelaskan standar yang ia inginkan.
Undav tahu apa yang harus dilakukan.
Jika ia kembali produktif di Stuttgart, menciptakan peluang, mencetak gol, dan menunjukkan performa konsisten, peluang untuk kembali dipanggil tetap ada.
Karena itu, Undav tidak memilih untuk berkonflik dengan Klopp.
Ia menerima keputusan tersebut.
Ia kecewa.
Tetapi kemudian memilih bergerak maju.
Sikap tersebut sangat sesuai dengan karakter yang selama ini melekat padanya.
Dari Jalan Terjal Menuju Tantangan Baru
Perjalanan Undav memang selalu penuh cerita.
Ia bukan pemain yang sejak kecil diprediksi akan menjadi bintang tim nasional.
Ia harus bekerja lebih keras.
Ia harus menghadapi keraguan.
Ia harus membuktikan diri berkali-kali.
Dan justru karena itulah ketika ia berhasil menembus level tertinggi, kisahnya menjadi begitu menarik.
Kini ia kembali berada di titik ketika banyak orang mulai mempertanyakan kemampuannya.
Statistiknya menurun.
Stuttgart kesulitan.
Panggilan tim nasional belum datang.
Namun situasi tersebut bukan sesuatu yang benar-benar baru bagi Undav.
Ia sudah mengalaminya berkali-kali.
Bedanya, sekarang tekanan yang dihadapinya jauh lebih besar karena ekspektasi terhadap dirinya sudah meningkat.
Undav Punya Satu Jawaban: Bangkit
Pada akhirnya, Deniz Undav tahu tidak ada gunanya terus memikirkan masa lalu.
Ia tidak bisa mengubah komentar Nagelsmann.
Ia juga tidak bisa memaksa Klopp memasukkannya ke skuad.
Ia tidak bisa mengubah hasil pertandingan Stuttgart melawan Dortmund.
Yang bisa ia lakukan adalah bekerja.
Berlatih.
Menciptakan peluang.
Mencetak gol.
Dan menunjukkan bahwa dirinya masih pemain yang sama yang mampu mencatatkan puluhan kontribusi gol pada musim sebelumnya.
Undav sudah mengatakan bahwa dirinya kecewa hanya selama beberapa menit.
Setelah itu, ia melihat ke depan.
Kalimat tersebut mungkin menjadi gambaran paling tepat mengenai karakter sang penyerang.
Ia sedang mengalami masa sulit, tetapi belum menyerah.
Ia sedang kehilangan tempat di tim nasional, tetapi masih ingin kembali.
Ia sedang mengalami paceklik gol, tetapi tetap percaya dapat bangkit.
Dan ia sedang menghadapi tekanan besar di Stuttgart, tetapi pengalaman masa lalunya telah mengajarkan satu hal: keraguan orang lain bukanlah akhir dari cerita.
Musim ini mungkin dimulai dengan buruk bagi Deniz Undav.
Namun perjalanan kariernya sendiri menunjukkan bahwa pemain berusia 30 tahun itu sudah berkali-kali menghadapi situasi ketika orang lain menganggap dirinya tidak cukup bagus.
Dan berkali-kali pula ia menemukan cara untuk membuktikan sebaliknya.
Kini, sekali lagi, Undav harus melakukannya.
Bukan dengan kata-kata.
Bukan dengan membantah Klopp.
Bukan dengan mempersoalkan kritik Nagelsmann.
Melainkan dengan gol, performa, dan kontribusi nyata untuk Stuttgart.
Jika ia mampu menemukan kembali insting yang selama ini menjadi kekuatan utamanya, kesempatan untuk kembali ke tim nasional Jerman masih bisa terbuka.
Dan mungkin, seperti yang sudah berkali-kali terjadi sepanjang kariernya, periode sulit yang sedang dialami Deniz Undav justru akan menjadi awal dari kebangkitan berikutnya.
