Barcelona ternyata belum benar-benar melupakan luka yang ditinggalkan Neymar.
Hampir satu dekade setelah kepergian bintang Brasil tersebut, dampaknya masih terasa dalam kebijakan transfer dan kontrak klub Catalan. Barcelona kini jauh lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan pemain muda yang dianggap memiliki masa depan besar.
Nama terbaru yang menjadi perhatian adalah Hamza Abdelkarim.
Penyerang muda asal Mesir tersebut baru saja mencuri perhatian setelah mendapatkan kesempatan bersama tim utama Barcelona. Namun, di balik perkembangan pesatnya, muncul satu persoalan yang membuat manajemen klub mulai bergerak cepat.
Klausul pelepasan dalam kontrak Abdelkarim saat ini disebut hanya berada di angka 15 juta euro.
Bagi pemain muda yang potensinya terus meningkat dan mulai mendapatkan sorotan internasional, angka tersebut dinilai terlalu kecil. Barcelona pun dilaporkan sedang mempertimbangkan langkah untuk menaikkan klausul itu secara drastis menjadi 150 juta euro.
Jika benar terealisasi, klausul tersebut akan meningkat sepuluh kali lipat.
Sekilas, angka 150 juta euro mungkin terlihat berlebihan untuk seorang pemain yang baru memulai perjalanan di sepak bola Eropa. Namun bagi Barcelona, pengalaman masa lalu telah mengajarkan satu hal penting: klausul yang dianggap mustahil hari ini belum tentu mustahil untuk dibayar di masa depan.
Dan semua itu berawal dari Neymar.
Neymar Mengubah Cara Barcelona Melindungi Bintangnya
Pada musim panas 2017, Barcelona mengalami salah satu kehilangan paling mengejutkan dalam sejarah klub.
Neymar meninggalkan Camp Nou dan bergabung dengan Paris Saint-Germain setelah klub Prancis tersebut mengaktifkan klausul pelepasan senilai 222 juta euro.
Pada saat itu, 222 juta euro merupakan angka yang luar biasa besar. Bahkan banyak pihak menganggap hampir tidak mungkin ada klub yang bersedia mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk satu pemain.
Tetapi PSG melakukannya.
Mereka membayar seluruh klausul tersebut dan membawa Neymar keluar dari Barcelona.
Transfer itu bukan hanya memecahkan rekor dunia. Bagi Barcelona, kepergian Neymar menjadi semacam alarm besar.
Klub menyadari bahwa menetapkan klausul pelepasan tinggi tidak otomatis menjamin seorang pemain akan bertahan.
Jika ada klub dengan kekuatan finansial yang cukup besar, angka tersebut tetap bisa ditebus.
Sejak saat itu, Barcelona mulai mengubah pendekatan mereka.
Klub tidak lagi sekadar menetapkan klausul berdasarkan perkiraan nilai pasar seorang pemain. Barcelona mulai memasang angka yang dimaksudkan untuk membuat klub lain berpikir berkali-kali sebelum mencoba membajak pemain mereka.
Strategi tersebut kemudian menghasilkan apa yang sering disebut sebagai klausul astronomis.
Klausul Pelepasan Mulai Mencapai Angka Fantastis
Perubahan tersebut terlihat jelas dalam kontrak para pemain bintang Barcelona.
Lionel Messi, misalnya, pernah memiliki klausul pelepasan sebesar 700 juta euro. Sementara Gerard Pique dan Sergio Busquets memiliki klausul sebesar 500 juta euro.
Barcelona juga memasukkan klausul senilai 400 juta euro dalam kontrak Ousmane Dembele, Philippe Coutinho dan Arthur Melo.
Sergi Roberto bahkan mengalami kenaikan klausul pelepasan dari 40 juta euro menjadi 500 juta euro.
Samuel Umtiti juga memiliki klausul 500 juta euro.
Namun Barcelona kemudian melangkah lebih jauh.
Pada 2019, Antoine Griezmann mendapatkan klausul pelepasan sebesar 800 juta euro.
Kemudian pada 2021, angka yang jauh lebih fantastis muncul.
Kontrak baru Pedri dilengkapi klausul pelepasan sebesar satu miliar euro.
Tidak lama kemudian, Ansu Fati juga mendapatkan klausul dengan nilai yang sama.
Ronald Araujo kemudian mengikuti jejak tersebut pada 2022. Gavi juga masuk ke dalam daftar pemain Barcelona dengan klausul pelepasan senilai satu miliar euro.
Lamine Yamal menjadi salah satu nama terbaru yang mendapatkan perlindungan serupa.
Dengan kata lain, Barcelona membangun sistem perlindungan baru terhadap pemain yang mereka anggap sebagai aset masa depan.
Dan kini Hamza Abdelkarim menjadi bagian terbaru dari cerita tersebut.
Abdelkarim Datang dengan Potensi Besar
Abdelkarim merupakan penyerang muda asal Mesir yang bergabung dengan Barcelona setelah meninggalkan Al Ahly.
Kehadirannya di Spanyol menjadi salah satu langkah penting dalam perkembangan karier sang pemain.
Usianya masih sangat muda, tetapi kemampuan mencetak gol dan potensinya sudah membuat Barcelona melihatnya sebagai investasi jangka panjang.
FIFA bahkan menyoroti Abdelkarim sebagai salah satu pemain muda Mesir yang patut diperhatikan setelah penampilannya bersama tim nasional kelompok umur.
Perkembangannya di Barcelona kemudian semakin menarik perhatian.
Dalam masa persiapan, Abdelkarim mampu menunjukkan kualitas yang membuat Hansi Flick terkesan. Ia bahkan menjadi salah satu pencetak gol terbanyak Barcelona selama pramusim.
Kesempatan akhirnya datang ketika Barcelona menghadapi Rayo Vallecano.
Abdelkarim masuk pada menit-menit akhir pertandingan untuk menggantikan Raphinha.
Meski hanya berada di lapangan selama beberapa menit dan belum sempat memberikan kontribusi besar secara statistik, momen tersebut memiliki arti sangat besar.
Ia menjadi pemain Mesir pertama yang tampil dalam pertandingan resmi bersama tim utama Barcelona.
Bagi Abdelkarim, itu merupakan awal dari sesuatu yang bisa menjadi perjalanan panjang.
Bagi Barcelona, momen tersebut sekaligus memperkuat alasan untuk segera memastikan masa depan sang pemain.
Klausul 15 Juta Euro Mulai Terlihat Berbahaya
Masalahnya terletak pada angka dalam kontrak Abdelkarim.
Klausul pelepasan sang pemain saat ini disebut hanya 15 juta euro.
Jika Abdelkarim terus berkembang dengan kecepatan seperti sekarang, angka tersebut berpotensi menjadi sangat murah.
Bayangkan jika sang penyerang berhasil mendapatkan menit bermain lebih banyak, mencetak gol di LaLiga, tampil di Liga Champions dan menjadi bagian penting tim nasional Mesir.
Nilai pasarnya bisa melonjak.
Dan pada saat itulah klub-klub besar Eropa bisa mulai datang.
Barcelona tentu tidak ingin mengulangi kejadian yang pernah terjadi pada Neymar.
Karena itu, laporan dari Spanyol menyebut Barcelona ingin menaikkan klausul Abdelkarim menjadi 150 juta euro.
Angka tersebut tidak sebesar klausul satu miliar euro milik sejumlah bintang Barcelona, tetapi untuk pemain yang masih sangat muda, nilai tersebut sudah menunjukkan tingkat kepercayaan klub.
Ini bukan sekadar soal angka.
Ini adalah pesan bahwa Barcelona ingin mengendalikan masa depan Abdelkarim.
Barcelona Belajar dari Kepergian Dro
Ada alasan lain mengapa Barcelona semakin sensitif terhadap klausul pelepasan pemain muda.
Belum lama ini, klub kembali mengalami pengalaman pahit ketika Pedro Fernandez Sarmiento, yang lebih dikenal sebagai Dro, meninggalkan Barcelona untuk bergabung dengan Paris Saint-Germain.
PSG disebut mengaktifkan klausul pelepasan senilai sekitar 6 juta euro.
Barcelona tidak dapat berbuat banyak karena angka tersebut memang tercantum dalam kontraknya.
Kepergian Dro dilaporkan membuat klub Catalan kecewa.
Bahkan Hansi Flick sempat menyampaikan penyesalannya.
Bagi Flick, seorang pemain yang ingin membela Barcelona seharusnya memiliki keterikatan kuat terhadap klub.
Kejadian tersebut kembali menunjukkan kelemahan sistem lama.
Talenta muda Barcelona bisa berkembang selama bertahun-tahun di akademi, kemudian menarik perhatian klub lain, dan akhirnya pergi hanya dengan pembayaran klausul yang relatif kecil.
Bagi klub seperti Barcelona, kehilangan seorang pemain muda bukan hanya berarti kehilangan pemain.
Ada investasi dalam pembinaan, waktu, fasilitas, pelatih dan proses pengembangan yang ikut hilang.
Karena itu, wajar apabila manajemen kini ingin bertindak lebih agresif.
Mengapa 150 Juta Euro?
Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Barcelona memilih angka 150 juta euro untuk Abdelkarim?
Jawabannya cukup sederhana.
Barcelona tidak ingin klausul tersebut menjadi angka yang mudah ditebus.
Namun klub juga harus realistis.
Abdelkarim belum berada pada level Pedri, Gavi atau Lamine Yamal ketika klausul satu miliar euro mereka ditetapkan. Sang pemain masih berada di awal kariernya.
Karena itu, angka 150 juta euro dapat dianggap sebagai bentuk perlindungan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan Abdelkarim.
Barcelona ingin memberikan ruang bagi sang pemain untuk berkembang tanpa terus-menerus dihantui ancaman pembajakan klub lain.
Selain itu, kontrak baru juga dikabarkan akan memberikan kondisi yang lebih baik bagi pemain.
Ini penting.
Barcelona tidak hanya bisa menaikkan klausul secara sepihak tanpa memberikan kompensasi atau perbaikan terhadap kontrak. Pemain muda dan pihaknya tentu juga harus merasa bahwa kesepakatan baru tersebut menguntungkan.
Dengan demikian, klub mendapatkan perlindungan, sementara pemain mendapatkan pengakuan atas perkembangan yang telah dicapainya.
Luka Neymar Masih Terasa
Jika melihat kebijakan Barcelona selama hampir satu dekade terakhir, pengaruh Neymar memang sangat jelas.
Sebelum 2017, klausul pelepasan tinggi dianggap cukup.
Setelah Neymar pergi, Barcelona mulai memasang angka yang semakin sulit disentuh.
Dari 500 juta euro, 700 juta euro, 800 juta euro hingga satu miliar euro.
Kini angka 150 juta euro untuk Abdelkarim mungkin terlihat lebih kecil dibandingkan para bintang tersebut.
Namun prinsipnya sama.
Barcelona tidak ingin ada klub yang datang secara tiba-tiba dan mengatakan bahwa mereka siap membayar klausul lalu membawa pergi salah satu talenta terbaik klub.
Kasus Neymar menjadi pelajaran bahwa bahkan klub sebesar Barcelona bisa kehilangan pemain bintang jika lawan memiliki kekuatan finansial yang cukup.
Karena itu, Abdelkarim menjadi contoh terbaru dari strategi tersebut.
Persaingan Abdelkarim Baru Dimulai
Tentu saja, menaikkan klausul pelepasan tidak berarti Barcelona menjamin Abdelkarim akan menjadi superstar.
Sang pemain masih harus membuktikan dirinya.
Ia harus bersaing dengan pemain-pemain lain untuk mendapatkan menit bermain.
Barcelona juga baru saja memperkuat lini serang mereka. Kedatangan pemain berpengalaman seperti Gabriel Jesus menambah kompetisi di sektor depan.
Namun situasi tersebut tidak selalu menjadi masalah bagi Abdelkarim.
Justru persaingan bisa menjadi bagian penting dari perkembangannya.
Flick telah menunjukkan bahwa dirinya tidak takut memberikan kesempatan kepada pemain muda apabila mereka dianggap siap.
Abdelkarim sudah mendapatkan kepercayaan tersebut.
Kini tugas sang pemain adalah mempertahankannya.
Jika performanya terus berkembang, kesempatan bermainnya bisa semakin banyak.
Dan semakin banyak kesempatan yang didapat, semakin tinggi pula kemungkinan nilainya meningkat.
Itulah sebabnya Barcelona ingin bertindak sebelum terlambat.
Dari Neymar ke Abdelkarim
Pada akhirnya, kisah Hamza Abdelkarim bukan hanya tentang seorang penyerang muda Mesir yang sedang mencoba menembus tim utama Barcelona.
Ini adalah gambaran bagaimana satu transfer pada masa lalu terus memengaruhi kebijakan klub hingga bertahun-tahun kemudian.
Neymar pergi pada 2017 dengan membayar klausul 222 juta euro.
Setelah itu Barcelona mengubah cara mereka melindungi pemain.
Klausul pelepasan mulai dinaikkan ke angka ratusan juta euro, kemudian bahkan mencapai satu miliar euro untuk pemain seperti Pedri, Gavi dan Lamine Yamal.
Kini, ketika Abdelkarim mulai menunjukkan tanda-tanda sebagai talenta menjanjikan, Barcelona kembali menghadapi pertanyaan yang sama.
Apakah mereka akan menunggu sampai sang pemain benar-benar menjadi bintang sebelum melindunginya?
Jawabannya tampaknya tidak.
Dengan klausul 15 juta euro yang dianggap terlalu rendah, Barcelona dilaporkan ingin menaikkannya menjadi 150 juta euro.
Sepuluh kali lipat.
Langkah itu sekaligus menunjukkan betapa dalamnya luka yang ditinggalkan Neymar.
Hampir sepuluh tahun telah berlalu, tetapi Barcelona masih hidup dengan pelajaran dari transfer tersebut.
Abdelkarim mungkin belum menjadi Neymar baru.
Bahkan terlalu dini untuk membandingkan keduanya.
Namun satu hal sudah jelas: Barcelona tidak ingin kehilangan talenta berikutnya dengan cara yang sama.
Dan jika klausul 150 juta euro benar-benar disepakati, itu akan menjadi bukti terbaru bahwa bayang-bayang Neymar masih mengikuti Barcelona hingga hari ini.
