Komentar tersebut disampaikan Mata ketika menjadi bagian dari liputan ITV untuk pertandingan UEFA Nations League antara Inggris dan Spanyol. Di tengah pembicaraan mengenai laporan putusan kasus finansial Manchester City, mantan gelandang asal Spanyol itu memberikan respons yang mengundang tawa sekaligus membuka kembali kenangan mengenai persaingan Manchester United dan Manchester City dalam perebutan gelar.
“Sebenarnya, ini berdampak langsung kepada saya,” ujar Mata dalam responsnya.
Ia kemudian mengingat bahwa dirinya memang pernah memenangkan sejumlah trofi sepanjang karier, tetapi ada satu gelar yang belum pernah berhasil diraihnya.
“Saya cukup beruntung bisa memainkan banyak pertandingan dan memenangkan beberapa trofi, tetapi saya tidak pernah menjuarai Premier League. Atau sudah? Saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” lanjutnya.
Kalimat terakhir itulah yang kemudian menjadi perhatian. Mata tentu tidak sedang mengatakan bahwa dirinya secara resmi sudah menjadi juara Premier League. Ia lebih sedang bercanda mengenai kemungkinan konsekuensi dari kasus Manchester City yang masih dalam proses panjang.
Mata Pernah Sangat Dekat dengan Gelar Premier League
Candaan Mata sebenarnya mempunyai latar belakang yang cukup menarik.
Selama membela Manchester United dari 2014 hingga 2022, pemain asal Spanyol tersebut mengalami langsung periode ketika Manchester City menjadi salah satu kekuatan dominan di sepak bola Inggris.
Mata bergabung dengan Manchester United pada Januari 2014 setelah sebelumnya memperkuat Chelsea. Selama berada di Old Trafford, ia menjadi bagian dari tim yang memenangkan beberapa trofi, termasuk FA Cup, EFL Cup, dan UEFA Europa League.
Namun, satu trofi yang tidak pernah berhasil ia dapatkan adalah Premier League.
Kesempatan paling dekat datang ketika Manchester United finis sebagai runner-up pada musim 2017/18. Saat itu, United yang dilatih Jose Mourinho mengumpulkan 81 poin dan harus melihat Manchester City keluar sebagai juara setelah menjalani musim luar biasa.
Bagi Mata, situasi tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana dominasi Manchester City memberikan dampak langsung terhadap kariernya di Manchester United.
Karena itulah ketika kabar mengenai kasus finansial City muncul, ia dapat melihat perkembangan tersebut dari perspektif yang sangat personal.
Jika status gelar Manchester City pada masa lalu benar-benar berubah setelah seluruh proses hukum selesai, maka secara hipotetis sejarah klasemen dan status juara pada musim tertentu juga bisa menjadi bahan perdebatan.
Tetapi sampai sekarang, belum ada keputusan yang menyatakan bahwa Mata mendapatkan gelar Premier League.
“Saya Tidak Pernah Juara Premier League, atau Sudah?”
Kalimat Mata terdengar ringan, tetapi mengandung sejarah panjang persaingan kedua klub Manchester.
Manchester City dan Manchester United bersaing memperebutkan gelar Premier League dalam sejumlah musim ketika Mata masih aktif bermain di Old Trafford.
Manchester United sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu klub tersukses di kompetisi tersebut. Premier League mencatat United telah memenangkan 13 gelar sejak era kompetisi dimulai pada 1992. Manchester City memiliki delapan gelar Premier League, sementara Arsenal meraih gelar 2025/26 dan kini memiliki empat gelar di era Premier League.
Namun, jumlah gelar itu bukan inti dari komentar Mata.
Mata hanya sedang membayangkan kemungkinan yang mungkin terjadi jika perkembangan hukum Manchester City berujung pada perubahan terhadap catatan sejarah kompetisi.
Itulah mengapa ia menambahkan bahwa dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi.
Dengan kata lain, Mata tidak mengklaim bahwa dirinya sudah mendapatkan gelar. Ia hanya membuka pertanyaan dengan nada bercanda.
Kasus Manchester City Memang Bisa Berdampak pada Sejarah Liga
Kasus Manchester City yang berlangsung selama bertahun-tahun kembali menjadi perhatian besar setelah laporan mengenai putusan komisi independen muncul.
Manchester City sebelumnya didakwa Premier League atas 115 dugaan pelanggaran aturan finansial. Tuduhan tersebut berkaitan dengan periode antara 2009 dan 2018 dan mencakup berbagai kategori aturan finansial serta kewajiban memberikan informasi kepada Premier League.
Pada perkembangan terbaru, komisi independen dilaporkan menguatkan 114 dari 115 tuduhan tersebut. Kabar tersebut langsung memicu reaksi dari banyak tokoh sepak bola, termasuk pemain dan mantan pemain yang pernah terlibat dalam persaingan dengan Manchester City.
Namun, angka 114 dari 115 bukan berarti seluruh proses sudah berakhir.
Manchester City tetap mempertahankan posisi bahwa klub tidak melakukan kesalahan. Ketua klub Khaldoon Al Mubarak juga menyatakan bahwa proses Premier League masih panjang dan klub tetap yakin dapat membuktikan posisinya.
Dengan demikian, status gelar Manchester City pada musim-musim sebelumnya juga belum berubah.
Belum ada pengumuman final yang menyatakan bahwa gelar tertentu dicabut dan diberikan kepada klub lain.
Karena itu, candaan Mata harus dipahami sebagai candaan yang muncul dari kemungkinan hipotetis, bukan sebagai pengumuman bahwa mantan pemain Manchester United tersebut telah mendapatkan gelar Premier League.
Mata Juga Menyinggung Pernyataan Rodri
Dalam komentarnya, Mata tidak hanya berbicara mengenai kemungkinan dirinya menjadi juara Premier League.
Ia juga memberikan respons terhadap pernyataan Rodri, mantan pemain Manchester City yang kini memperkuat Barcelona.
Rodri sebelumnya membela pencapaian Manchester City dengan menekankan bahwa trofi dimenangkan di lapangan. Dari sudut pandang pemain yang berada di dalam tim, apa yang mereka capai adalah hasil kerja keras bersama dan tidak bisa begitu saja dipisahkan dari pengalaman mereka di lapangan.
Mata mengatakan bahwa pandangan Rodri tersebut dapat dipahami.
Ia mengakui bahwa jika melihat sepak bola dari perspektif pertandingan, sebuah tim memang harus memenangkan pertandingan untuk mendapatkan gelar. Namun, Mata juga mempertanyakan apakah semua yang terjadi di luar lapangan dapat begitu saja diabaikan ketika proses hukum menemukan adanya pelanggaran aturan.
Pernyataan itu menunjukkan posisi Mata yang cukup hati-hati.
Ia tidak secara langsung menyatakan apa hukuman yang seharusnya diterima Manchester City. Sebaliknya, ia mengakui bahwa pertanyaan mengenai dampak hukum kasus tersebut memang sulit dijawab sebelum seluruh proses selesai.
Manchester City Tetap Membantah
Di tengah berbagai komentar dari mantan pemain dan pengamat, Manchester City tetap mempertahankan pembelaannya.
Klub tersebut secara konsisten membantah tuduhan yang diajukan Premier League. Setelah muncul laporan mengenai hasil komisi independen, Khaldoon Al Mubarak kembali memberikan pesan kepada para pendukung City.
Ia menegaskan bahwa klub masih memiliki keyakinan dan tekad untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Al Mubarak juga menjelaskan bahwa karena proses hukum masih berlangsung dan bersifat rahasia, klub belum dapat membuka seluruh detail yang menjadi dasar pembelaan mereka.
Ini menjadi salah satu alasan mengapa situasi tersebut belum bisa dianggap sebagai bab terakhir.
Manchester City diperkirakan akan menempuh proses banding terhadap keputusan komisi independen. Menurut laporan Goal, klub memiliki waktu 14 hari sejak keputusan untuk mengajukan banding, yang kemudian akan ditangani panel terpisah beranggotakan tiga orang.
Hasil banding tersebut akan menjadi bagian penting dalam menentukan bagaimana kasus ini berakhir.
Apa yang Terjadi dengan Gelar-Gelar Masa Lalu?
Pertanyaan yang paling menarik bagi publik adalah apa yang akan terjadi terhadap gelar-gelar Manchester City jika proses hukum tersebut menghasilkan sanksi.
Di sinilah komentar Mata menjadi relevan.
Secara hipotetis, jika ada perubahan terhadap status gelar pada musim tertentu, maka klub-klub yang berada di posisi kedua pada musim tersebut dapat ikut disebut dalam pembicaraan.
Manchester United merupakan salah satu klub yang beberapa kali berada di belakang Manchester City dalam perebutan gelar selama periode yang menjadi sorotan.
Mata sendiri menjadi bagian dari skuad United yang finis sebagai runner-up pada musim 2017/18.
Namun, tidak tepat untuk langsung menyatakan bahwa gelar tersebut akan diberikan kepada Manchester United atau bahwa Mata otomatis akan menjadi juara.
Sampai ada keputusan resmi mengenai sanksi dan status gelar, catatan sejarah kompetisi tetap seperti yang tercatat saat ini.
Karena itu, pertanyaan Mata lebih merupakan humor yang mengambil kemungkinan tersebut sebagai bahan candaan.
Musim 2017/18 Jadi Kenangan yang Menarik
Jika berbicara tentang pengalaman Mata, musim 2017/18 memang menjadi salah satu musim yang paling relevan.
Manchester United tampil sebagai runner-up Premier League di bawah Mourinho. Mereka mengumpulkan 81 poin, tetapi Manchester City mengakhiri musim sebagai juara.
City tampil sangat dominan pada musim tersebut dan menjadi salah satu tim paling produktif dalam sejarah kompetisi.
Mata dan rekan-rekannya harus menerima kenyataan bahwa posisi kedua adalah pencapaian akhir mereka.
Kini, bertahun-tahun kemudian, perkembangan kasus finansial City membuat musim-musim masa lalu kembali dibicarakan.
Itulah yang membuat candaan Mata menjadi menarik.
Ia tidak sedang meminta trofi secara serius. Ia hanya mengingat fakta bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari tim Manchester United yang harus berada di belakang City dalam perebutan gelar.
Jika kemudian status gelar City berubah, tentu akan ada pertanyaan mengenai bagaimana sejarah kompetisi harus dicatat.
Tetapi pertanyaan tersebut baru bisa dijawab setelah seluruh proses hukum dan banding selesai.
Mantan Pemain United Kembali Menjadi Sorotan
Mata bukan satu-satunya mantan pemain Manchester United yang memberikan respons terhadap perkembangan kasus ini.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, sejumlah legenda sepak bola Inggris juga membicarakan kasus tersebut dalam siaran ITV.
Roy Keane, misalnya, memberikan komentar keras mengenai temuan komisi independen. Ian Wright juga membahas bagaimana dugaan pelanggaran tersebut dapat berdampak terhadap klub-klub lain yang bersaing dengan Manchester City selama periode dominasi mereka.
Namun, pendekatan Mata berbeda.
Ia memilih menggunakan humor.
Alih-alih mengeluarkan pernyataan keras mengenai hukuman, Mata justru menghubungkan kasus tersebut dengan pengalaman pribadinya sebagai pemain Manchester United yang tidak pernah memenangkan Premier League.
Komentarnya membuat situasi yang sangat serius dari sisi hukum terasa lebih ringan dalam siaran televisi.
Perjalanan Karier Mata Tanpa Gelar Premier League
Juan Mata sendiri tetap memiliki koleksi trofi yang sangat mengesankan meski tidak pernah memenangkan Premier League.
Selama kariernya, ia merasakan kesuksesan besar bersama Chelsea dan Manchester United.
Ia memenangkan Liga Champions bersama Chelsea pada 2012, ketika klub London tersebut menaklukkan Bayern Munich di final. Mata juga memenangkan Europa League bersama Chelsea sebelum kembali merasakan kompetisi tersebut bersama Manchester United.
Ia kemudian memenangkan FA Cup dan EFL Cup bersama United.
Namun, satu gelar yang selalu hilang dari koleksinya adalah Premier League.
Karena itu, candaan “atau sudah?” yang dilontarkan Mata memiliki dasar cerita yang cukup kuat.
Ia benar-benar pernah berada sangat dekat dengan gelar tersebut.
Hanya saja, selama berada di Inggris, klub yang dibelanya tidak pernah finis sebagai juara Premier League.
Pertanyaan Mata Belum Memiliki Jawaban
Untuk saat ini, pertanyaan Juan Mata masih belum memiliki jawaban.
Apakah dirinya akan suatu hari tercatat sebagai juara Premier League?
Belum ada dasar resmi untuk mengatakan demikian.
Kasus Manchester City masih memiliki tahapan lanjutan. Klub tersebut mempertahankan pembelaannya dan diperkirakan akan mengajukan banding. Sanksi final juga belum ditetapkan dalam perkembangan yang dilaporkan tersebut.
Karena itu, Mata masih tetap berada dalam status yang sama seperti sebelumnya: seorang mantan pemain Manchester United yang memenangkan berbagai trofi, tetapi belum pernah memenangkan Premier League.
Namun, untuk seorang pemain yang memiliki selera humor seperti Mata, perkembangan kasus ini memberikan kesempatan untuk melontarkan satu pertanyaan yang sangat cocok dengan kisah kariernya.
“Saya tidak pernah menjuarai Premier League… atau sudah?”
Pertanyaan itu mungkin hanya sebuah lelucon.
Tetapi di tengah salah satu proses hukum paling besar yang pernah melibatkan klub Premier League, candaan tersebut cukup untuk menghidupkan kembali kenangan tentang persaingan Manchester United dan Manchester City.
Dan untuk saat ini, hanya satu hal yang bisa dipastikan: Mata belum menerima gelar baru. Jawaban mengenai apakah sejarah Premier League akan mengalami perubahan masih menunggu kelanjutan proses hukum Manchester City.
