Ismael Saibari baru saja memulai petualangan barunya bersama Bayern Munich, tetapi pemain asal Maroko itu sudah berhasil membuat Bundesliga membicarakan sesuatu yang mungkin terdengar sepele.
Bukan gol.
Bukan assist.
Bukan pula aksi kontroversial di dalam pertandingan.
Kali ini perhatian justru tertuju kepada kaus kaki Saibari yang penuh lubang.
Sekilas, pemandangan tersebut mungkin terlihat seperti hal biasa. Banyak pesepak bola profesional memang sengaja membuat lubang pada kaus kaki mereka. Tujuannya bukan untuk bergaya, melainkan untuk mengurangi tekanan pada bagian betis ketika kaus kaki terasa terlalu ketat.
Namun, persoalan menjadi jauh lebih menarik karena kaus kaki Saibari ternyata memiliki lubang dalam jumlah yang tidak sedikit.
Ketika Bayern Munich menghadapi Schalke 04 dalam lanjutan Bundesliga, Saibari tampil dengan kaus kaki yang memiliki 12 lubang.
Jumlah tersebut begitu mencolok sampai media Jerman menggambarkan kedua kaki pemain tersebut seolah-olah berada di dalam sepotong keju Swiss.
Pertandingan sendiri berakhir tanpa gol, 0-0.
Namun, di tengah kegagalan Bayern mencetak gol, penampilan Saibari justru memunculkan pertanyaan lain yang tidak kalah menarik: apakah kaus kaki berlubang seperti itu sebenarnya diperbolehkan dalam pertandingan resmi Bundesliga?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Menurut regulasi Liga Sepak Bola Jerman, terdapat aturan yang secara spesifik membahas pakaian dan perlengkapan pertandingan. Dalam lampiran keempat regulasi lisensi, khususnya pedoman mengenai pakaian pertandingan yang diterbitkan pada 5 Desember 2025, terdapat ketentuan bahwa kaus kaki dalam maupun kaus kaki biasa yang terlihat tidak boleh memiliki lubang.
Artinya, jika membaca aturan tersebut secara harfiah, kaus kaki Saibari memang berada dalam wilayah abu-abu, bahkan secara teori dapat dianggap tidak sesuai dengan regulasi.
Tetapi mengapa wasit tetap membiarkannya bermain?
Di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Mengapa Pemain Sepak Bola Sengaja Melubangi Kaus Kaki?
Sebenarnya Saibari bukan satu-satunya pemain yang melakukan hal tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemandangan pemain dengan kaus kaki penuh lubang semakin sering terlihat di sepak bola profesional.
Ada alasan ilmiah dan praktis di balik kebiasaan tersebut.
Kaus kaki sepak bola dibuat cukup ketat agar tetap menempel pada kaki dan membantu menjaga perlengkapan seperti pelindung tulang kering tetap berada di tempatnya.
Masalahnya muncul ketika pertandingan berlangsung dengan intensitas tinggi.
Saat pemain berlari, melakukan sprint, berhenti mendadak, serta terus bergerak selama puluhan menit, aliran darah menuju otot betis meningkat. Otot pun dapat mengalami pembengkakan selama aktivitas fisik.
Ketika otot betis membesar sementara kain kaus kaki tetap berada dalam kondisi ketat, tekanan pada bagian tersebut juga meningkat.
Bagi sebagian pemain, kondisi itu terasa tidak nyaman.
Karena itulah mereka membuat beberapa lubang pada bagian belakang atau samping kaus kaki.
Lubang tersebut memberikan ruang tambahan sehingga kain tidak terlalu menekan otot.
Seorang pakar Inggris yang dikutip Mirror menjelaskan bahwa peningkatan aliran darah selama aktivitas fisik dapat membuat otot betis membengkak, sehingga kaus kaki yang ketat berpotensi memberikan tekanan lebih besar.
Dengan kata lain, apa yang dilakukan Saibari bukanlah sesuatu yang muncul tanpa alasan.
Ia memiliki kebutuhan fisik tertentu.
Dan Saibari sendiri sudah menjelaskan alasannya.
Setelah tampil mengesankan dalam kemenangan telak Bayern atas Stuttgart dengan skor 5-1, pemain tersebut berbicara mengenai kebiasaannya melubangi kaus kaki.
Menurut Saibari, tujuannya sederhana: memastikan kaus kaki tidak terlalu ketat.
Ia bahkan menjelaskan bahwa otot betisnya cukup besar sehingga membutuhkan ruang lebih agar tidak terlalu tertekan.
Jadi, dari sudut pandang sang pemain, lubang-lubang tersebut bukanlah bentuk pembangkangan terhadap aturan.
Ia hanya berusaha mendapatkan kenyamanan ketika bermain.
Namun, aturan tetaplah aturan.
Dua Belas Lubang Jadi Perhatian
Yang membuat kasus Saibari semakin menarik adalah jumlah lubang pada kaus kakinya.
Bukan hanya satu atau dua lubang kecil.
Ada 12 lubang yang terlihat jelas.
Jumlah tersebut membuat penampilan Saibari di lapangan terlihat berbeda dibandingkan pemain lain.
Media Jerman Bild bahkan menyoroti penampilannya secara khusus.
Ketika Bayern menghadapi Schalke, perhatian terhadap kaus kaki tersebut semakin besar karena pertandingan berlangsung dengan intensitas tinggi dan Bayern kesulitan mencetak gol.
Saibari sendiri merupakan pemain baru di Bayern.
Ia datang ke klub Bavaria dengan ekspektasi tinggi dan mulai mendapatkan perhatian karena performanya.
Dalam kemenangan 5-1 atas Stuttgart, ia tampil impresif setelah masuk sebagai pemain pengganti dan memberikan dua assist. Performanya membuat banyak pihak mulai melihatnya sebagai salah satu pemain baru yang menarik untuk diperhatikan di Bayern.
Namun, hanya beberapa hari kemudian, pembicaraan mengenai Saibari berubah.
Bukan lagi tentang assist atau kemampuan menyerangnya.
Melainkan tentang kaus kaki.
Apakah Saibari Sebenarnya Melanggar Aturan?
Jika hanya melihat kebiasaan para pemain, lubang pada kaus kaki mungkin dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Tetapi Bundesliga mempunyai aturan tertulis.
Regulasi tersebut menyatakan bahwa kaus kaki dalam dan kaus kaki biasa yang terlihat tidak boleh memiliki lubang.
Dengan demikian, secara teori, kaus kaki Saibari dapat dikategorikan sebagai perlengkapan yang tidak sesuai.
Namun, pelanggaran terhadap aturan tersebut tidak otomatis berarti wasit harus menghentikan pertandingan atau memberikan kartu kepada pemain.
Lutz Wagner, pakar perwasitan berusia 63 tahun, memberikan penjelasan yang membuat situasi tersebut menjadi lebih jelas.
Menurut Wagner, FIFA dan International Football Association Board memiliki pertimbangan yang sangat penting terkait perlengkapan pemain.
Hal yang paling penting bagi wasit adalah kemampuan membedakan warna dengan jelas.
Mengapa?
Karena perlengkapan pemain harus memungkinkan wasit mengenali pemain dengan cepat.
Bayangkan sebuah pelanggaran terjadi dalam sepersekian detik.
Seorang pemain melakukan tekel.
Wasit harus segera mengetahui siapa yang melakukan pelanggaran.
Jika ada sesuatu pada perlengkapan pemain yang membuat identifikasi menjadi sulit, situasinya dapat menjadi masalah.
Kesalahan identifikasi bisa berujung pada kartu diberikan kepada pemain yang salah.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah kaus kaki terlihat bagus atau tidak.
Yang lebih penting adalah apakah kondisi tersebut mengganggu fungsi utama perlengkapan dalam pertandingan.
Wasit Tidak Selalu Harus Menghukum
Penjelasan Wagner menunjukkan mengapa Saibari tetap bisa bermain meskipun kaus kakinya memiliki begitu banyak lubang.
Selama lubang tersebut tidak menyebabkan kebingungan visual dan tidak mengganggu kemampuan wasit mengenali pemain, wasit mungkin memilih untuk tidak melakukan intervensi.
Artinya, ada perbedaan antara aturan tertulis dan penerapan aturan di lapangan.
Aturan dapat mengatakan bahwa kaus kaki tidak boleh memiliki lubang.
Tetapi dalam praktiknya, wasit tetap harus mempertimbangkan situasi pertandingan.
Jika kondisi kaus kaki tidak mengganggu identifikasi pemain, tidak menimbulkan risiko lain, dan tidak membuat permainan menjadi sulit dikendalikan, keputusan bisa saja berbeda.
Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak pemain lain dapat melakukan hal serupa tanpa mendapatkan hukuman.
Sepak bola modern memang memiliki banyak detail perlengkapan yang harus diperhatikan.
Mulai dari warna kaus kaki, pelindung tulang kering, sepatu, hingga berbagai aksesori lainnya.
Semua memiliki aturan.
Tetapi tidak semua pelanggaran teknis kecil otomatis berujung pada hukuman di lapangan.
Saibari dan Awal Kariernya di Bayern
Terlepas dari kontroversi kaus kaki, Saibari sebenarnya sedang menikmati awal yang cukup menjanjikan di Bayern Munich.
Pemain berusia 25 tahun itu datang dari PSV Eindhoven dengan reputasi sebagai pemain yang bisa beroperasi di beberapa posisi.
Ia mampu bermain di lini tengah maupun area menyerang.
Kemampuan tersebut membuatnya menarik bagi Bayern, terutama karena klub membutuhkan kedalaman skuad untuk menghadapi musim yang sangat panjang.
Performa melawan Stuttgart menjadi salah satu bukti awal.
Masuk sebagai pemain pengganti, Saibari mampu memberikan dampak langsung dan mencatat dua assist dalam kemenangan 5-1 Bayern.
Performa tersebut membuat namanya mulai mendapatkan perhatian.
Namun, pertandingan berikutnya menghadirkan cerita berbeda.
Bayern ditahan Schalke 0-0.
Bukan hasil yang diinginkan juara Jerman tersebut.
Bayern memang mendominasi permainan dan menciptakan sejumlah peluang, tetapi penyelesaian akhir mereka tidak cukup untuk menembus pertahanan Schalke.
Dalam pertandingan seperti itu, hal kecil di luar taktik pun dapat menjadi bahan pembicaraan.
Dan kaus kaki Saibari akhirnya menjadi salah satunya.
Bayern Belum Selesai dengan Musim Panjang
Awal musim Bayern juga memperlihatkan bahwa perjalanan mereka tidak akan selalu mudah.
Mereka mampu tampil sangat dominan dalam kemenangan besar atas Stuttgart.
Tetapi menghadapi Schalke, mereka justru gagal mencetak satu gol pun.
Hasil tersebut menjadi pengingat bahwa pertandingan Bundesliga tidak selalu berjalan sesuai prediksi.
Bayern kemudian akan menghadapi tantangan di Liga Champions.
Jadwal mereka mempertemukan Bayern dengan Bodø/Glimt pada pertandingan berikutnya di kompetisi Eropa.
Artinya, Saibari juga memiliki kesempatan untuk kembali menunjukkan kemampuannya di panggung yang lebih besar.
Jika ia terus mendapatkan kesempatan bermain dan mampu mempertahankan performa seperti saat melawan Stuttgart, isu tentang kaus kaki mungkin perlahan akan tenggelam.
Tetapi untuk sementara, lubang-lubang pada kaus kakinya justru membuat nama Saibari semakin dikenal.
Kontroversi Kecil yang Membuka Perdebatan Besar
Kasus Saibari sebenarnya memperlihatkan sesuatu yang menarik tentang sepak bola modern.
Ada banyak aturan yang mungkin tidak diketahui oleh penonton.
Bagi suporter, kaus kaki berlubang mungkin hanya terlihat seperti kebiasaan unik seorang pemain.
Namun, bagi regulator dan wasit, perlengkapan pertandingan memiliki fungsi penting.
Sepak bola bukan hanya tentang mencetak gol.
Wasit juga harus dapat mengidentifikasi pemain dengan cepat, membedakan warna perlengkapan, serta memastikan pertandingan berlangsung dengan standar yang sama untuk semua pemain.
Karena itulah lubang pada kaus kaki bisa menjadi persoalan lebih serius daripada yang terlihat.
Namun, kasus Saibari juga menunjukkan bahwa penerapan aturan tidak selalu hitam putih.
Secara teori, kaus kakinya memang tidak sesuai dengan bunyi regulasi Bundesliga.
Tetapi selama kondisi tersebut tidak mengganggu kemampuan wasit menjalankan tugasnya, tindakan langsung belum tentu diperlukan.
Itulah yang terjadi dalam pertandingan Bayern melawan Schalke.
Saibari tetap bermain.
Tidak ada kartu.
Tidak ada hukuman.
Tidak ada drama besar di lapangan.
Tetapi setelah pertandingan, kaus kaki dengan 12 lubang tersebut justru menjadi pembicaraan.
Dan semakin banyak orang membicarakannya, semakin menarik pula pertanyaan yang muncul:
Jika aturan Bundesliga mengatakan kaus kaki tidak boleh berlubang, sampai sejauh mana pemain boleh memodifikasinya demi kenyamanan?
Untuk saat ini, Saibari tampaknya tetap akan menggunakan metode yang menurutnya membuat dirinya nyaman.
Betisnya besar.
Kaus kaki terasa ketat.
Lubang dibuat agar tekanan berkurang.
Sederhana.
Namun, jika suatu hari lubang tersebut dianggap mengganggu identifikasi pemain atau dinilai melanggar aturan secara langsung, bukan tidak mungkin wasit akan meminta Saibari mengganti perlengkapannya.
Untuk sementara, pemain baru Bayern itu bisa tersenyum.
Ia memang belum mencetak gol dalam pertandingan yang menjadi sorotan ini.
Bayern bahkan gagal menang.
Tetapi Saibari berhasil mencuri perhatian dengan cara yang sangat tidak biasa.
Dua belas lubang pada kaus kaki kini menjadi simbol kecil dari awal karier Saibari di Bayern—dan sekaligus membuka perdebatan mengenai batas antara kenyamanan pemain dan aturan pertandingan.
