Masa lalu kembali mengetuk pintu Madrid. Lebih dari satu dekade setelah terakhir kali berdiri berhadapan di pinggir lapangan, Jose Mourinho dan Diego Simeone akhirnya kembali bertemu dalam sebuah pertandingan resmi. Kali ini panggungnya adalah Derby Madrid, ketika Atletico Madrid menjamu Real Madrid di Metropolitano.
Pertandingan tersebut bukan sekadar pertemuan dua klub sekota. Ada cerita panjang yang ikut dibawa oleh kedua pelatih. Mourinho kembali ke Madrid sebagai pelatih Real Madrid, sementara Simeone masih berdiri di sisi Atletico Madrid, klub yang sudah menjadi bagian besar dari perjalanan karier kepelatihannya.
Pertemuan resmi terakhir antara keduanya terjadi pada 30 April 2014. Saat itu Mourinho menangani Chelsea, sedangkan Simeone memimpin Atletico Madrid. Kedua tim bertemu pada leg kedua semifinal Liga Champions di Stamford Bridge.
Atletico datang ke London setelah bermain imbang 0-0 pada leg pertama di Vicente Calderon. Chelsea membutuhkan kemenangan untuk mencapai final, sementara Atletico hanya membutuhkan hasil yang tepat untuk mengamankan tiket ke partai puncak.
Mourinho sempat mendapatkan awal yang diinginkan.
Fernando Torres mencetak gol untuk Chelsea dan membuat tuan rumah berada di posisi yang menguntungkan. Namun, Atletico kemudian menunjukkan karakter mereka. Adrian Lopez menyamakan kedudukan sebelum Diego Costa membawa Atletico berbalik unggul melalui penalti. Arda Turan kemudian menambah gol ketiga.
Chelsea akhirnya kalah 1-3.
Atletico Madrid melaju ke final Liga Champions, sedangkan Mourinho harus menerima kenyataan bahwa Simeone berhasil mengakhiri perjalanan timnya di kompetisi Eropa tersebut.
Kini, lebih dari 12 tahun berlalu, keduanya kembali bertemu.
Situasinya pun berubah.
Mourinho tidak lagi berada di Chelsea. Setelah meninggalkan Real Madrid pada akhir periode pertamanya, pelatih asal Portugal tersebut menjalani perjalanan panjang di berbagai klub. Ia menangani Chelsea, Manchester United, Tottenham Hotspur, AS Roma, Fenerbahce hingga Benfica sebelum akhirnya kembali ke Real Madrid pada musim panas lalu.
Simeone, sebaliknya, tetap berada di Atletico Madrid.
Selama bertahun-tahun, Simeone membangun identitas Atletico dengan gaya bermain yang sangat khas. Ia menjadi sosok penting dalam perubahan status Atletico menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Spanyol dan Eropa.
Karena itu, Derby Madrid kali ini menghadirkan sesuatu yang menarik.
Mourinho kembali ke kota yang pernah menjadi bagian penting dalam kariernya. Namun di jalan menuju kemenangan, ada sosok lama yang kembali berdiri sebagai penghalang: Simeone.
Awal Rivalitas Mourinho dan Simeone
Sejarah pertemuan kedua pelatih sebenarnya dimulai pada 2012.
Saat itu Mourinho masih menjadi pelatih Real Madrid pada periode pertamanya. Simeone baru mulai membangun proyeknya bersama Atletico Madrid.
Pertemuan pertama mereka berlangsung pada 11 April 2012 di Vicente Calderon. Real Madrid tampil dominan dan meraih kemenangan 4-1.
Mourinho kembali menang ketika kedua tim bertemu di Santiago Bernabeu pada Desember 2012. Real Madrid menang 2-0.
Beberapa bulan kemudian, pada 27 April 2013, Mourinho kembali membawa Real Madrid menang dengan skor 2-1 di kandang Atletico.
Tiga pertemuan pertama tersebut semuanya menjadi milik Mourinho.
Namun, cerita kemudian berubah.
Atletico mulai berkembang menjadi tim yang jauh lebih kuat. Simeone perlahan membentuk skuad dengan karakter yang sangat sulit dihadapi. Mereka tidak hanya mampu bersaing dengan Real Madrid dan Barcelona, tetapi juga mulai memenangkan trofi-trofi besar.
Pertemuan berikutnya menjadi titik balik penting dalam hubungan kompetitif kedua pelatih.
Pada 17 Mei 2013, Real Madrid dan Atletico bertemu di final Copa del Rey di Santiago Bernabeu.
Pertandingan tersebut menjadi salah satu laga penting pada akhir periode pertama Mourinho di Real Madrid.
Los Blancos unggul lebih dahulu melalui Cristiano Ronaldo. Namun Atletico tidak menyerah. Diego Costa menyamakan kedudukan setelah menerima umpan dari Radamel Falcao.
Pertandingan berlanjut ke babak tambahan.
Di sinilah Atletico akhirnya menyelesaikan comeback.
Joao Miranda mencetak gol kemenangan melalui sundulan setelah menerima umpan dari Koke.
Atletico menang 2-1.
Trofi tersebut memiliki arti besar bagi Simeone karena menjadi salah satu keberhasilan penting dalam proses pembangunan Atletico di bawah kepemimpinannya.
Lebih dari itu, kemenangan tersebut juga memberikan pesan bahwa Atletico bukan lagi sekadar tetangga yang berada di bawah bayang-bayang Real Madrid.
Mereka mulai menjadi rival yang benar-benar mampu mengalahkan Los Blancos dalam pertandingan besar.
Menariknya, salah satu pemain yang berada di bawah mistar Atletico pada final tersebut adalah Thibaut Courtois.
Kini, Courtois justru merupakan penjaga gawang Real Madrid.
Sepak bola memang sering menghadirkan cerita yang berputar.
Simeone Mengubah Perjalanan Atletico
Setelah kemenangan di Copa del Rey, Atletico semakin berkembang.
Pada musim berikutnya, Atletico berhasil memenangkan gelar LaLiga dengan mengungguli Real Madrid dan Barcelona. Kesuksesan tersebut menjadi salah satu pencapaian terbesar Simeone selama menangani klub.
Mourinho kemudian meninggalkan Real Madrid.
Karier keduanya bergerak ke arah berbeda. Simeone tetap membangun Atletico, sementara Mourinho berpindah dari satu klub ke klub lain.
Keduanya tidak bertemu lagi secara resmi selama bertahun-tahun.
Mourinho bahkan tidak pernah menghadapi Atletico atau Simeone setelah pertandingan semifinal Liga Champions 2014 tersebut.
Karena itu, Derby Madrid kali ini memiliki nilai nostalgia yang kuat.
Mourinho kembali ke Madrid.
Simeone masih berada di Atletico.
Dan pertandingan berlangsung di stadion yang sekarang dikenal sebagai Riyadh Air Metropolitano, markas Atletico Madrid.
Rekor Pertemuan yang Menarik
Secara keseluruhan, Mourinho memiliki sejarah yang cukup kuat ketika menghadapi Simeone.
Dalam tiga pertemuan pertama, Mourinho selalu menang.
Namun setelah itu, Simeone berhasil mengubah keadaan.
Dari tiga pertandingan pertama yang dimenangkan Mourinho, pertemuan-pertemuan berikutnya menjadi jauh lebih sulit bagi pelatih asal Portugal tersebut.
Dalam sembilan pertandingan sepanjang periode Mourinho sebagai pelatih Real Madrid, ia hanya meraih satu kemenangan atas tim Simeone, sementara pertandingan lainnya lebih banyak berakhir dengan hasil yang menguntungkan Atletico.
Kemenangan penting tersebut adalah final Copa del Rey.
Simeone juga memiliki catatan menarik ketika menghadapi Mourinho.
Ia belum pernah memenangkan pertandingan LaLiga melawan Mourinho ketika Mourinho menangani Real Madrid. Tiga kemenangan Mourinho di kompetisi domestik semuanya terjadi dalam pertemuan awal.
Namun Simeone mendapatkan kemenangan yang jauh lebih berarti di final Copa del Rey.
Kemudian, ketika Mourinho kembali menghadapi Simeone sebagai pelatih Chelsea, Atletico berhasil menyingkirkan Chelsea dari semifinal Liga Champions.
Dengan demikian, sejarah keduanya tidak bisa hanya dilihat dari jumlah kemenangan.
Ada sejumlah pertandingan besar yang memberikan dampak panjang bagi perjalanan kedua klub.
Mourinho Kembali ke Tempat Lama
Kembalinya Mourinho ke Madrid menambah dimensi lain dalam pertandingan ini.
Real Madrid adalah salah satu klub yang paling menentukan dalam karier Mourinho. Di sana ia memenangkan LaLiga, Copa del Rey dan Supercopa de Espana selama periode pertamanya.
Kini ia kembali dengan tantangan yang berbeda.
Real Madrid sedang berada dalam fase baru dan memiliki sejumlah pemain muda serta bintang besar yang harus dikelola. Kylian Mbappe menjadi salah satu pusat perhatian utama, sementara Vinicius Junior, Jude Bellingham, Arda Guler dan pemain lainnya juga menjadi bagian dari skuad yang memiliki ekspektasi tinggi.
Mourinho sudah menunjukkan bahwa ia ingin menerapkan standar kompetitif yang sangat tinggi.
Ia bahkan tidak memberikan jaminan tempat utama kepada pemain tertentu dan meminta seluruh pemain bersaing untuk mendapatkan posisi.
Kemenangan dramatis atas Elche menjadi contoh bagaimana Real Madrid musim ini masih memiliki sisi yang harus diperbaiki.
Los Blancos sempat unggul 2-0, tetapi Elche berhasil menyamakan kedudukan. Carlos Espi kemudian mencetak gol penentu pada menit-menit akhir sehingga Madrid menang 3-2.
Mourinho mengakui bahwa timnya kehilangan kendali setelah unggul dua gol.
Masalah seperti itu akan sangat berbahaya ketika menghadapi Atletico.
Simeone dikenal sebagai pelatih yang mampu memanfaatkan kelemahan lawan. Atletico tidak membutuhkan banyak peluang untuk mengubah jalannya pertandingan.
Karena itu, Mourinho membutuhkan tim yang lebih disiplin dan mampu menjaga konsentrasi selama 90 menit.
Atletico Juga Punya Target Besar
Simeone tidak akan menghadapi Mourinho hanya untuk menghidupkan kembali kenangan masa lalu.
Atletico juga membutuhkan hasil penting.
Setelah enam pertandingan LaLiga, Atletico mengumpulkan 13 poin dan berada di posisi keempat. Mereka hanya tertinggal dua poin dari Real Madrid dan Real Betis yang sama-sama memiliki 15 poin.
Artinya, kemenangan dalam Derby Madrid dapat membuat persaingan papan atas menjadi semakin ketat.
Atletico juga memiliki sejumlah pemain yang dapat menjadi ancaman serius bagi Real Madrid.
Julian Alvarez menjadi salah satu nama yang harus diperhatikan. Penyerang Argentina tersebut mempunyai pengalaman menghadapi Madrid dan telah menunjukkan kemampuan mencetak gol dalam pertandingan besar.
Selain Alvarez, Atletico memiliki pemain-pemain yang memahami betul bagaimana cara Simeone memainkan pertandingan derby.
Mereka tahu kapan harus menekan.
Mereka tahu kapan harus bertahan.
Dan mereka tahu bahwa satu momen bisa menentukan hasil pertandingan.
Dua Filosofi yang Berbeda
Mourinho dan Simeone memiliki karakter yang berbeda, tetapi ada satu kesamaan: keduanya sangat memperhatikan organisasi tim.
Mourinho dikenal sebagai pelatih yang mampu mempersiapkan pertandingan berdasarkan kelemahan lawan. Simeone juga memiliki reputasi serupa.
Karena itu, pertemuan mereka selalu menarik secara taktik.
Mourinho mungkin akan mencoba membuat Real Madrid mengontrol pertandingan melalui kualitas individu dan penguasaan bola.
Simeone bisa saja memilih pendekatan yang lebih pragmatis, menunggu momen untuk melakukan transisi cepat.
Pertandingan dapat berubah menjadi duel kesabaran.
Siapa yang lebih dulu kehilangan konsentrasi bisa memberikan keuntungan besar kepada lawan.
Masa Lalu Bertemu Masa Kini
Ada sesuatu yang simbolis dalam pertemuan ini.
Mourinho kembali ke Madrid setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan panjang di berbagai klub.
Simeone tetap berada di tempat yang sama, membangun Atletico selama lebih dari satu dekade.
Keduanya pernah berhadapan ketika Atletico mulai bangkit.
Mereka pernah bertemu dalam final Copa del Rey yang menjadi titik penting bagi rivalitas Madrid.
Mereka kembali bertemu di semifinal Liga Champions.
Dan sekarang, mereka bertemu lagi ketika Mourinho memimpin Real Madrid untuk kedua kalinya.
Bagi Mourinho, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa dirinya masih mampu menghadapi salah satu pelatih yang pernah menjadi rival beratnya.
Bagi Simeone, ini adalah kesempatan untuk kembali menguji Real Madrid yang kini berada di bawah kendali pelatih lama mereka.
Namun pertandingan ini juga membawa satu pertanyaan besar.
Apakah sejarah akan kembali berulang?
Mourinho memenangkan tiga pertemuan pertama mereka.
Simeone kemudian mengambil alih momentum dalam pertandingan-pertandingan besar berikutnya.
Kini keduanya memulai cerita baru.
Tidak ada yang bisa memastikan apakah sejarah lama akan memberikan pengaruh terhadap pertandingan baru.
Yang pasti, Derby Madrid kali ini membawa cerita yang jauh lebih besar daripada sekadar tiga poin.
Ini adalah pertemuan dua pelatih yang pernah bertarung dalam salah satu periode paling menarik sepak bola Spanyol.
Mourinho kembali ke Madrid.
Simeone kembali berdiri di jalannya.
Dan setelah lebih dari 12 tahun sejak pertemuan resmi terakhir mereka, dua nama besar tersebut akhirnya kembali berada di pinggir lapangan yang sama.
Derby Madrid pada 20 September bukan hanya tentang Real Madrid melawan Atletico.
Ini juga tentang masa lalu yang kembali mengetuk pintu Madrid.
