Malam yang seharusnya menjadi momen untuk merayakan kemenangan Borussia Dortmund berubah menjadi suasana penuh duka bagi Niko Kovac.

Dortmund baru saja meraih kemenangan penting 1-0 atas VfB Stuttgart di Bundesliga. Tim asuhan Kovac mempertahankan rekor sempurna dengan empat kemenangan dari empat pertandingan dan untuk sementara berada di puncak klasemen.

Namun beberapa menit setelah pertandingan berakhir, perhatian Kovac tiba-tiba berubah total.

Dalam sebuah wawancara langsung bersama Sky Sport Germany, pelatih Borussia Dortmund itu mendapatkan kabar bahwa sahabat dekat sekaligus mantan asistennya, Peter Hermann, telah meninggal dunia.

Kabar tersebut disampaikan presenter Sebastian Hellmann ketika wawancara sedang berlangsung.

Kovac terlihat sangat terpukul.

Pelatih berusia 54 tahun itu berusaha menahan emosinya, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan betapa berat kabar tersebut baginya. Ia kemudian berbicara mengenai Hermann dengan suara yang penuh kesedihan.

“Saya sedikit sesak napas mendengarnya. Satu atau dua bulan lalu saya masih mencoba berbicara dengannya, tetapi sekarang hal itu sudah sama sekali tidak mungkin,” ujar Kovac, seperti dikutip Goal.

Hermann meninggal dunia pada usia 74 tahun setelah menjalani perjuangan panjang melawan amyotrophic lateral sclerosis atau ALS, salah satu penyakit neurodegeneratif yang hingga kini belum memiliki obat yang dapat menyembuhkannya.

Bagi Kovac, Hermann bukan sekadar mantan kolega.

Ia adalah seseorang yang telah hadir dalam berbagai fase perjalanan hidup dan kariernya.

Kabar Duka Datang di Tengah Perayaan Kemenangan

Beberapa menit sebelumnya, Kovac masih memiliki alasan untuk tersenyum.

Dortmund baru saja mengalahkan Stuttgart 1-0 di kandang lawan.

Maximilian Beier menjadi pencetak gol kemenangan pada menit ke-70.

Hasil tersebut membawa Dortmund meraih 12 poin dari empat pertandingan Bundesliga. Mereka menjadi salah satu tim yang mengawali musim dengan sempurna dan untuk sementara berada di puncak klasemen, unggul dua poin atas Bayern Munich.

Secara profesional, kemenangan tersebut merupakan pencapaian penting.

Namun semuanya mendadak terasa tidak berarti ketika Kovac mendapatkan kabar mengenai Hermann.

Kovac sedang menjalani wawancara pascapertandingan bersama Sky ketika Sebastian Hellmann menerima informasi mengenai kematian tersebut.

Sang presenter kemudian menyampaikan berita duka itu kepada Kovac dan dua analis di studio, Lothar Matthäus serta Julia Simic.

Suasana wawancara yang sebelumnya membahas pertandingan berubah menjadi sangat emosional.

Kovac terlihat berusaha mencerna informasi tersebut.

Tidak ada lagi pembicaraan mengenai taktik.

Tidak ada lagi pembahasan mengenai gol Beier.

Tidak ada lagi pembicaraan mengenai posisi Dortmund di klasemen.

Yang tersisa hanyalah kenangan tentang seorang sahabat yang baru saja pergi.

“Sayangnya Penyakitnya Tidak Bisa Disembuhkan”

Kovac kemudian menjelaskan bahwa dirinya sudah mengetahui Hermann sedang mengalami masalah kesehatan serius.

Ia bahkan masih berusaha menghubunginya sekitar satu atau dua bulan sebelumnya.

Namun ketika Kovac mencoba berbicara dengan sahabatnya tersebut, telepon justru dijawab oleh putri Hermann.

Pada saat itu, Kovac tampaknya sudah memahami bahwa kondisi sahabatnya semakin memburuk.

Namun tetap saja, kabar kematian tersebut memberikan pukulan emosional yang sangat berat.

“Sayangnya penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Saya sangat sedih. Seseorang yang baik telah pergi meninggalkan kami,” kata Kovac.

Kalimat tersebut menggambarkan betapa dekat hubungan keduanya.

Hermann bukan hanya sosok yang pernah bekerja bersama Kovac.

Hubungan mereka sudah terjalin jauh lebih lama.

Peter Hermann, Sosok Penting dalam Sepak Bola Jerman

Peter Hermann merupakan salah satu figur berpengalaman di balik layar sepak bola Jerman.

Namanya mungkin tidak seterkenal pelatih kepala yang berdiri di pinggir lapangan, tetapi kontribusinya sebagai asisten pelatih sangat besar.

Sepanjang kariernya, Hermann telah menjadi bagian dari lebih dari 1.000 pertandingan sebagai asisten pelatih di berbagai klub.

Ia pernah bekerja di Schalke, Hamburg, Bayer Leverkusen, Bayern Munich, Borussia Dortmund, dan sejumlah klub lainnya.

Salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya terjadi pada 2013.

Saat itu Hermann menjadi bagian dari staf Jupp Heynckes di Bayern Munich.

Bayern menjalani salah satu musim terbaik dalam sejarah klub dan berhasil meraih treble, yaitu Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions.

Hermann kembali bekerja bersama Heynckes ketika sang pelatih kembali ke Bayern pada 2017.

Setelah itu, Hermann tetap berada di klub selama satu tahun ketika Niko Kovac mengambil alih posisi pelatih Bayern.

Hubungan profesional mereka pun semakin erat.

Hubungan Hermann dan Kovac Jauh Lebih Dalam

Bagi Kovac, hubungan dengan Hermann bahkan dimulai sebelum dirinya menjadi pelatih Bayern Munich.

Hermann juga pernah menjadi bagian dari perjalanan Kovac ketika masih menjadi pemain.

Dalam konferensi pers setelah pertandingan Stuttgart, Kovac menjelaskan bahwa Hermann pernah menjadi asistennya ketika ia masih berada di Bayer Leverkusen sebagai pemain.

Karena itu, kepergian Hermann terasa seperti kehilangan seseorang yang telah menemani dirinya melewati perjalanan panjang sepak bola.

“Seorang pria hebat telah pergi meninggalkan kami,” kata Kovac ketika mengenang sahabatnya tersebut.

Ia kemudian menambahkan bahwa Hermann bukan hanya sosok yang bekerja bersamanya di Munich.

Hermann juga pernah menjadi bagian dari kehidupannya ketika Kovac masih menjadi pemain di Leverkusen.

“Bukan hanya sebagai asisten pelatih di Munich, tetapi juga sebagai asisten pelatih ketika saya masih menjadi pemain di Leverkusen. Ini benar-benar sebuah kejutan yang memukul,” ujar Kovac.

Kematian Setelah Perjuangan Panjang Melawan ALS

Hermann meninggal dunia setelah menjalani perjuangan panjang melawan ALS.

Amyotrophic lateral sclerosis merupakan penyakit neurodegeneratif yang menyerang sel-sel saraf motorik dan secara bertahap dapat menyebabkan kelemahan otot.

Dalam kasus Hermann, penyakit tersebut membuat kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya ia tidak lagi mampu berkomunikasi secara langsung dengan Kovac.

Kovac mengungkapkan bahwa beberapa waktu sebelum kematian Hermann, dirinya masih mencoba berbicara dengan sang sahabat.

Namun telepon tersebut dijawab oleh putri Hermann.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa Kovac sudah mengetahui betapa serius kondisi sahabatnya.

Tetapi mengetahui seseorang sedang sakit parah tidak pernah membuat kabar kematian menjadi mudah diterima.

Apalagi ketika berita tersebut datang secara tiba-tiba di tengah siaran langsung televisi.

Kovac Membatalkan Wawancara Berikutnya

Setelah wawancara bersama Sky berakhir, Kovac sebenarnya masih memiliki agenda media lainnya.

Ia dijadwalkan tampil dalam program Aktuelles Sportstudio di stasiun televisi ZDF.

Namun setelah mendapatkan kabar tentang kematian Hermann, Kovac memutuskan untuk membatalkan penampilan tersebut.

Keputusan itu kemudian dikonfirmasi presenter Katrin Müller-Hohenstein dalam program tersebut pada Sabtu malam.

Keputusan tersebut sangat bisa dipahami.

Kovac baru saja menerima kabar mengenai kematian seseorang yang sangat dekat dengannya.

Melanjutkan rangkaian wawancara media dalam kondisi emosional seperti itu tentu bukan sesuatu yang mudah.

Bahkan dalam konferensi pers setelah pertandingan, Kovac masih terlihat berusaha menahan air mata.

Kemenangan Dortmund Mendadak Menjadi Hal Kedua

Secara olahraga, kemenangan atas Stuttgart sangat penting.

Dortmund kini memiliki rekor sempurna.

Empat pertandingan.

Empat kemenangan.

Dua belas poin.

Dan hanya kebobolan dua gol sepanjang empat laga Bundesliga.

Maximilian Beier juga mendapatkan sorotan setelah mencetak gol kemenangan.

Kovac seharusnya dapat menikmati hasil tersebut.

Namun kabar mengenai Hermann membuat pencapaian olahraga itu seolah berada di latar belakang.

Bagi seorang pelatih, pertandingan memang merupakan bagian penting dari kehidupan profesional.

Tetapi kehilangan sahabat tentu berada pada level yang berbeda.

Kovac sendiri tidak mencoba menyembunyikan perasaannya.

Ia berbicara dengan jujur mengenai rasa kehilangan tersebut.

Hermann Punya Pengaruh Besar di Bayern

Karier Hermann di Bayern Munich menjadi salah satu bagian paling penting dalam perjalanan profesionalnya.

Pada era Heynckes, ia menjadi bagian dari staf yang membantu Bayern meraih treble pada 2013.

Tim tersebut dianggap sebagai salah satu tim terbaik dalam sejarah Bayern.

Setelah Heynckes meninggalkan klub, Hermann kemudian kembali ketika sang pelatih veteran dipanggil untuk menangani Bayern lagi pada 2017.

Tidak lama kemudian, Niko Kovac datang.

Hubungan keduanya kembali berlanjut.

Hermann menjadi salah satu figur yang membantu proses transisi kepelatihan tersebut.

Meskipun posisinya bukan sebagai pelatih utama, peran asisten seperti Hermann sangat penting dalam kehidupan sehari-hari sebuah tim.

Mereka membantu menyiapkan latihan.

Menganalisis lawan.

Berkomunikasi dengan pemain.

Dan menjadi penghubung penting antara pelatih kepala dengan anggota staf lainnya.

Bekerja di Banyak Klub Besar

Hermann memiliki pengalaman yang sangat panjang dalam sepak bola Jerman.

Ia pernah berada di berbagai klub besar dan memahami berbagai lingkungan sepak bola.

Schalke.

Hamburg.

Bayer Leverkusen.

Bayern Munich.

Borussia Dortmund.

Daftar tersebut menunjukkan luasnya pengalaman yang dimilikinya.

Lebih dari 1.000 pertandingan sebagai asisten pelatih juga menjadi gambaran tentang betapa panjang perjalanan profesionalnya.

Namun bagi Kovac, angka-angka tersebut mungkin bukan hal terpenting.

Yang paling penting adalah hubungan personal mereka.

Kenangan yang mereka bangun.

Dan perjalanan yang mereka lalui bersama.

Dari Leverkusen hingga Dortmund

Hubungan Kovac dan Hermann memiliki akar yang jauh lebih lama dibandingkan periode ketika keduanya bekerja di Bayern.

Kovac pernah menjadi pemain Bayer Leverkusen.

Pada periode tersebut, Hermann sudah berada di lingkungan klub sebagai asisten.

Itulah sebabnya Kovac mengenal Hermann bukan hanya sebagai rekan kerja.

Mereka telah saling mengenal selama bertahun-tahun.

Kemudian kehidupan mempertemukan mereka kembali dalam kapasitas berbeda.

Kovac menjadi pelatih.

Hermann menjadi bagian dari stafnya.

Mereka bekerja bersama di Bayern Munich.

Dan kini, ketika Kovac menjadi pelatih Dortmund, Hermann tetap menjadi bagian penting dalam kenangan pribadinya.

Momen yang Sulit bagi Seorang Pelatih

Sepak bola sering membuat seorang pelatih harus menunjukkan ketegasan.

Mereka harus mengambil keputusan sulit.

Mereka harus menghadapi kritik.

Mereka harus menjawab pertanyaan media setelah kemenangan maupun kekalahan.

Namun ada momen ketika semua peran profesional tersebut menjadi tidak penting.

Kabar kematian Hermann menjadi salah satunya.

Kovac tidak lagi terlihat sebagai pelatih Dortmund yang baru saja memenangkan pertandingan.

Ia hanya terlihat sebagai seorang sahabat yang baru saja kehilangan orang dekat.

Hal itu terlihat jelas dari reaksinya ketika mendengar kabar tersebut.

Ia berusaha melanjutkan wawancara, tetapi kesedihan tidak bisa disembunyikan.

Dortmund Memberikan Dukungan

Dalam situasi seperti ini, kemenangan Dortmund tentu bukan sesuatu yang paling utama.

Yang jauh lebih penting adalah memberikan ruang bagi Kovac untuk berduka.

Klub, pemain, staf, dan komunitas sepak bola Jerman tentu memiliki kesempatan untuk memberikan penghormatan kepada Hermann.

Sosok yang telah menghabiskan puluhan tahun dalam sepak bola Jerman tersebut meninggalkan warisan yang tidak kecil.

Ia mungkin tidak selalu berada di halaman depan surat kabar.

Ia mungkin tidak selalu menjadi sosok yang mendapatkan sorotan kamera.

Namun pekerjaannya di balik layar telah menjadi bagian dari perjalanan banyak klub besar.

Sebuah Kehilangan yang Akan Diingat

Bagi Kovac, kematian Hermann bukan hanya berita tentang seorang mantan rekan kerja.

Ia kehilangan sahabat.

Seseorang yang pernah berada di sampingnya dalam fase berbeda kehidupan.

Seseorang yang mengenalnya sejak dirinya masih menjadi pemain.

Seseorang yang kemudian bekerja bersamanya ketika ia menjadi pelatih.

Dan seseorang yang masih ia coba hubungi beberapa bulan sebelum akhirnya meninggal dunia.

Karena itu, wajar jika kabar tersebut membuat Kovac kehilangan kata-kata.

Ia bahkan mengaku merasa “sesak napas” ketika mendengar kabar tersebut.

Kalimat sederhana itu mungkin menjadi gambaran paling kuat tentang bagaimana seseorang menerima berita duka secara mendadak.

Kemenangan 1-0 yang Terasa Berbeda

Pertandingan melawan Stuttgart akan tetap tercatat sebagai kemenangan penting bagi Dortmund.

Maximilian Beier akan dikenang sebagai pencetak gol kemenangan.

Dortmund akan menikmati empat kemenangan dari empat pertandingan.

Namun bagi Kovac, tanggal tersebut kemungkinan akan selalu memiliki makna lain.

Hari ketika timnya menang.

Tetapi juga hari ketika ia kehilangan seorang sahabat.

Sepak bola dan kehidupan pribadi bertemu dalam satu malam yang tidak mudah dilupakan.

Di satu sisi ada kegembiraan karena Dortmund berada di puncak Bundesliga.

Di sisi lain ada kesedihan mendalam karena Peter Hermann telah pergi.

Kovac kemudian menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Hermann bersama saudaranya.

Ia ingin keluarga sang sahabat mengetahui bahwa Hermann tidak hanya dihormati sebagai seorang profesional, tetapi juga dikenang sebagai manusia yang baik.

Selamat Jalan, Peter Hermann

Peter Hermann meninggalkan dunia sepak bola setelah perjalanan panjang.

Ia telah bekerja bersama banyak klub.

Ia telah menjadi bagian dari tim-tim besar.

Ia telah membantu pelatih-pelatih ternama.

Dan ia meninggalkan kenangan bagi banyak orang yang pernah bekerja dengannya.

Namun mungkin penghormatan paling emosional datang dari Niko Kovac.

Di depan kamera televisi, Kovac tidak mampu menyembunyikan kesedihannya.

Ia mencoba berbicara.

Mencoba menahan air mata.

Namun kabar tersebut terlalu berat.

“Seseorang yang baik telah pergi meninggalkan kami,” kata Kovac.

Kalimat tersebut menjadi penutup yang sederhana tetapi sangat dalam.

Bagi dunia sepak bola, Peter Hermann dikenang sebagai seorang asisten pelatih dengan pengalaman lebih dari 1.000 pertandingan.

Bagi Niko Kovac, ia adalah lebih dari itu.

Ia adalah sahabat.

Rekan perjalanan.

Mantan kolega.

Dan seseorang yang telah hadir dalam berbagai fase kehidupannya.

Karena itu, kemenangan Dortmund atas Stuttgart akhirnya bukan menjadi cerita terbesar dari malam tersebut.

Cerita terbesar adalah tentang seorang pria yang menerima kabar kehilangan sahabatnya secara langsung di depan kamera, berusaha tetap tegar, tetapi akhirnya membiarkan kesedihan berbicara.

Peter Hermann telah pergi.

Namun jejak panjangnya di sepak bola Jerman, serta kenangan yang ia tinggalkan bagi orang-orang terdekatnya, akan tetap menjadi bagian dari cerita olahraga tersebut.