MANCHESTER – Pelatih Tottenham Hotspur, Roberto De Zerbi, membuat pernyataan mengejutkan setelah timnya bermain imbang 1-1 melawan Manchester United di Old Trafford. Meski Rodrigo Bentancur menerima kartu merah akibat insiden dengan bek United, Luke Shaw, De Zerbi justru mengaku mencium gelandang asal Uruguay tersebut di ruang ganti seusai pertandingan.
Sikap De Zerbi menjadi sorotan karena Bentancur melakukan kesalahan yang berpotensi merugikan Tottenham. Namun, sang pelatih menilai reaksi tim setelah kehilangan satu pemain memperlihatkan karakter dan semangat juang yang selama ini ingin ia bangun.
Tottenham sempat tertinggal setelah Bryan Mbeumo membawa Manchester United unggul pada menit ke-73. Situasi semakin sulit ketika Bentancur diusir keluar lapangan beberapa menit kemudian. Kendati bermain dengan sepuluh orang, Tottenham tidak menyerah dan berhasil mencetak gol penyeimbang melalui Dominic Solanke pada menit ke-90+2.
Hasil 1-1 itu memberikan satu poin penting bagi Tottenham yang tengah berusaha keluar dari periode sulit pada awal musim Premier League 2026/2027. Bagi De Zerbi, cara timnya merespons tekanan menjadi sisi positif yang patut diperhatikan, meskipun ia tetap mengakui bahwa tindakan Bentancur bukanlah reaksi yang tepat.
De Zerbi Mengaku Mencium Bentancur di Ruang Ganti
De Zerbi mengungkapkan bahwa ia mendatangi Bentancur setelah pertandingan dan memberikan ciuman sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat yang ditunjukkan sang pemain. Menurut pelatih asal Italia tersebut, Tottenham membutuhkan karakter dan keberanian untuk menghadapi situasi sulit.
Ia tidak membenarkan kartu merah yang diterima Bentancur. De Zerbi secara terbuka menyebut tindakan gelandangnya sebagai kesalahan karena reaksi tersebut tidak sesuai dengan perilaku yang seharusnya ditunjukkan dalam pertandingan sepak bola.
Namun, ia juga menilai bahwa setelah insiden itu, para pemain Tottenham memperlihatkan respons kolektif yang lebih kuat. Mereka tidak membiarkan situasi tersebut menghancurkan semangat tim, melainkan berusaha bertahan dan mencari kesempatan untuk menyamakan kedudukan.
De Zerbi menegaskan bahwa dirinya ingin melihat karakter serupa dalam setiap pertandingan. Baginya, kualitas teknis saja tidak cukup untuk membawa Tottenham meraih kemenangan. Tim juga membutuhkan energi, keberanian, solidaritas, dan kemauan untuk terus berjuang meski keadaan tidak menguntungkan.
Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan De Zerbi dalam membangun mentalitas skuadnya. Ia ingin para pemain menunjukkan bahwa mereka bersedia bekerja keras satu sama lain, bukan hanya ketika pertandingan berjalan sesuai rencana, tetapi juga saat menghadapi tekanan.
Meski demikian, apresiasi terhadap semangat Bentancur tidak berarti sang pelatih menganggap kartu merah sebagai sesuatu yang positif. De Zerbi tetap mengakui bahwa tindakan tersebut merupakan kesalahan yang tidak seharusnya terjadi.
Bentancur Diusir Setelah Insiden dengan Luke Shaw
Insiden yang melibatkan Bentancur dan Shaw terjadi pada babak kedua, tidak lama setelah Manchester United memecah kebuntuan. Bentancur baru masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-66, tetapi keterlibatannya dalam pertandingan berakhir lebih cepat setelah ia menerima kartu merah langsung.
Perselisihan bermula ketika Bentancur terlibat kontak dengan Shaw di dekat area tepi lapangan. Situasi memanas dan berujung pada tindakan Bentancur yang menyundul bek Manchester United tersebut. Wasit kemudian mengusir gelandang Tottenham itu dari pertandingan.
Keputusan tersebut membuat Tottenham harus menghadapi sisa pertandingan dengan sepuluh pemain. Dalam keadaan tertinggal 0-1, kehilangan satu pemain tentu menjadi pukulan berat bagi tim tamu, yang membutuhkan hasil positif untuk memperbaiki posisi di klasemen.
Secara situasional, kartu merah Bentancur berpotensi menutup peluang Tottenham untuk mendapatkan poin. Manchester United memiliki keunggulan skor dan jumlah pemain sehingga diperkirakan bisa lebih leluasa mengendalikan permainan.
Namun, yang terjadi justru berbeda. Tottenham mampu meningkatkan intensitas permainan dan terus mencari peluang untuk menyamakan kedudukan. Para pemain tidak sepenuhnya mundur untuk bertahan, tetapi tetap berusaha memanfaatkan kesempatan ketika Manchester United kehilangan kendali atas pertandingan.
De Zerbi menilai respons tersebut menunjukkan perubahan mentalitas yang ia cari. Ia merasa para pemainnya mulai memperlihatkan kebersamaan dan keberanian untuk menghadapi kesulitan sebagai sebuah tim.
Solanke Jadi Kapten dan Penyelamat Tottenham
Selain insiden Bentancur, Dominic Solanke menjadi salah satu tokoh utama dalam pertandingan tersebut. Penyerang Inggris itu dipercaya mengenakan ban kapten dan kemudian mencetak gol penyeimbang pada masa tambahan waktu.
Solanke mencetak gol pada menit ke-90+2, ketika Tottenham berusaha memanfaatkan sisa waktu untuk menghindari kekalahan. Gol tersebut menyelamatkan tim tamu dari hasil yang berpotensi memperburuk situasi mereka pada awal musim.
De Zerbi menjelaskan bahwa keputusan menunjuk Solanke sebagai kapten bukan tanpa alasan. Ia menilai sang penyerang layak mendapatkan kepercayaan tersebut, terutama karena tetap berusaha memberikan kontribusi di tengah periode sulit yang dialami klub.
Sebelumnya, Tottenham kesulitan mencetak gol dan mengamankan kemenangan. Kondisi itu membuat para pemain depan, termasuk Solanke, menghadapi tekanan besar. Karena itu, De Zerbi ingin memberikan dukungan kepada pemainnya sekaligus menunjukkan bahwa ia percaya terhadap kualitas dan kontribusi sang penyerang.
Pelatih tersebut juga menegaskan bahwa Solanke merupakan pemain penting bagi Tottenham. Ia menilai tim perlu memberikan dukungan kepada sang striker, alih-alih terus mempertanyakan kemampuannya ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan.
Gol penyeimbang di Old Trafford menjadi respons penting bagi Solanke. Selain menyelamatkan satu poin, gol tersebut memperlihatkan bahwa Tottenham masih memiliki kemampuan untuk memberikan perlawanan hingga menit terakhir.
Bagi De Zerbi, kontribusi Solanke dan reaksi para pemain setelah kartu merah Bentancur menjadi dua aspek positif dari pertandingan yang penuh tekanan tersebut.
Tottenham Masih Terjebak di Zona Degradasi
Terlepas dari keberhasilan menyamakan kedudukan, hasil imbang melawan Manchester United belum cukup untuk menghapus persoalan Tottenham pada awal musim. Klub London Utara itu masih menjalani periode sulit setelah gagal meraih kemenangan dalam enam pertandingan pembuka Premier League 2026/2027.
Tottenham baru mengumpulkan tiga poin dari enam laga dan masih berada di zona degradasi. Catatan tersebut membuat tekanan terhadap De Zerbi semakin besar, terlebih karena klub memiliki ekspektasi tinggi setelah melakukan investasi besar pada bursa transfer.
Situasi ini juga memperlihatkan bahwa semangat juang saja belum cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan tim. Tottenham perlu mengubah penampilan kompetitif menjadi kemenangan agar dapat memperbaiki posisi di klasemen.
Dalam pertandingan melawan United, Tottenham sebenarnya mampu menciptakan sejumlah peluang sebelum kebobolan. Mereka bahkan tampil cukup dominan pada babak pertama, tetapi gagal mengonversi kesempatan menjadi gol.
Kegagalan memanfaatkan peluang menjadi masalah yang harus segera dibenahi. Jika Tottenham dapat meningkatkan efektivitas di depan gawang sekaligus mengurangi kesalahan individu, mereka memiliki peluang lebih baik untuk mengubah hasil pertandingan pada pekan-pekan berikutnya.
De Zerbi juga membutuhkan konsistensi dari para pemainnya. Ia ingin melihat semangat yang diperlihatkan di Old Trafford menjadi bagian dari penampilan Tottenham setiap pekan, bukan hanya muncul ketika tim berada dalam situasi terdesak.
De Zerbi Menginginkan Karakter yang Konsisten
Pernyataan De Zerbi setelah pertandingan memperlihatkan bahwa ia sedang berusaha membangun identitas tim yang tidak mudah menyerah. Pelatih asal Italia itu menilai Tottenham akhirnya menunjukkan kebersamaan yang selama ini ia harapkan.
Menurutnya, para pemain mulai memahami pentingnya bertahan dan menyerang sebagai satu kesatuan. Mereka tidak membiarkan kartu merah Bentancur menjadi alasan untuk kehilangan harapan, melainkan berusaha memberikan respons hingga berhasil mencetak gol penyeimbang.
Meski demikian, pendekatan tersebut tetap harus disertai kedisiplinan. Insiden Bentancur memperlihatkan bahwa semangat dan agresivitas bisa menjadi bumerang apabila tidak dikendalikan dengan baik. Tottenham membutuhkan keberanian untuk bersaing, tetapi juga harus mampu menjaga emosi serta menghindari tindakan yang merugikan tim.
Bagi De Zerbi, tantangan berikutnya adalah mempertahankan energi dan solidaritas yang diperlihatkan di Old Trafford sambil memperbaiki aspek teknis permainan. Tottenham perlu lebih tajam dalam menyelesaikan peluang, lebih disiplin ketika bertahan, dan lebih tenang ketika menghadapi tekanan.
Hasil imbang melawan Manchester United memang belum mengangkat Tottenham keluar dari krisis. Namun, perjuangan menyamakan kedudukan dengan sepuluh pemain memberikan modal psikologis bagi tim untuk menghadapi pertandingan berikutnya.
Adapun Bentancur harus mengambil pelajaran dari kartu merah yang diterimanya. Dukungan De Zerbi di ruang ganti menunjukkan bahwa sang pelatih tetap percaya kepada pemainnya, tetapi kepercayaan itu harus dibarengi dengan pengambilan keputusan yang lebih baik di lapangan.
Pada akhirnya, pesan De Zerbi cukup jelas: Tottenham membutuhkan karakter, tetapi karakter tersebut harus diwujudkan melalui permainan kolektif, kedisiplinan, dan hasil yang lebih baik. Satu poin di Old Trafford bisa menjadi awal perubahan, asalkan semangat yang ditunjukkan dalam pertandingan itu dapat dipertahankan sepanjang musim.
